Monday, January 16, 2017

Menjawab Pertanyaan Seksual Anak

Kiki Barkiah 

Lagi-lagi ia bertanya tentang pertanyaan yang tak mudah dijawab.

Shiddiq: "Ummi apa benar Rasulullah pernah mandi dalam satu bejana dengan Aisyah?"

(Haaaaa!!!) Saya kaget dalam hati. Saya rasa materi  pelajaran fiqh dalam homeschooling kami belum pernah sejauh itu. Namun seperti biasa dengan muka tenang tanpa menunjukkan panik saya merespon.

Ummi: "Dari mana abang dapat informasi tersebut?"

Shiddiq: "Aa told me!"

Dalam hati saya bertanya bagaimana mereka bisa sampai pada pembicaraan seserius itu.

Ummi: "Memangnya Shiddiq sedang dalam pembicaraan apa sama aa sampai ke pembahasan itu?"

Shiddiq: "I'm just asking something to Aa and Aa told me about that"

Ummi: "Ya itu salah satu hadist yang di riwayatkan Aisyah"

Saya berusaha menyudahi pembicaran dengan mengalihkan pembicaraan pada bahasan fiqh. Saya sangat berharap ia tidak melanjutkan pertanyaannya. Namun bukan Shiddiq jika tidak mengajukan pertanyaan lanjutan hasil analisis otaknya terhadap satu informasi ke informasi lain.

Shidiq: "Emangnya boleh, mi?"
Ummi: "Aisyah meriwayatkan hadist tersebut untuk diketahui para sahabat. Sesuatu yang di lakukan oleh Rasulullah juga berarti umat muslim diperbolehkan melakukannya. Kecuali pada beberapa hal yang secara khusus hanya boleh dilakukan oleh Rasulullah"

Shiddiq: "Kenapa ummi sama bapak gak pernah mandi bersama dalam satu bejana?"

(Gubrak!!! saya menahan tawa dan tetap berusaha tenang menjawab)

Ummi: "Kita kan punya kamar mandi dua bang, jadi kalo satu kamar mandi sedang digunakan bapak, ummi kan bisa menggunakan kamar mandi lain"

Shiddiq: "Kalo darurat hanya kamar mandi satu dan kebelet, berarti harus ditutup dengan tirai kain ya kayak di kamar mandi Amerika"

Shiddiq menyimpulkan, tapi saat itu saya tidak merespon komentarnya.

Shiddiq: "Jadi waktu itu Rasulullah tutupin pakai handuk atau keliatan bagian aurat p*n*snya?

Saya masih berusaha mempertahankan mimik yang tenang dan berusaha merangkai kata.

Ummi: "Di hadist itu tidak secara jelas menerangkan keadaan pakaian Rasulullah, jadi ummi tidak tau apa yang Rasulullah pakai saat itu."

Shiddiq: "Tapi boleh gak Aisyah lihat aurat Rasulullah?"

Karena pertanyaan sudah sangat spesifik, saya harus menceritakan dari sudut pandangan fiqh.

Ummi: "Secara syariat hal itu diperbolehkan"

Tiba-tiba ada perubahan mimik dari wajah Shafiyah dan Shiddiq yang menyatakan kepuasan. Rupanya mereka sedang penasaran dengan batasan aurat bagi suami dan istri.

Shafiyah: "Jadi boleh ya mi suami melihat aurat istri?"

Ummi: "Ya secara syariat itu halal, tetapi harus melalui ikatan pernikahan"

Shiddiq: "Memangnya bejana itu sebesar apa?"

Ummi: "Ummi tidak tau bejana Rasulullah sebedar apa tapi dari hadist tersebut Rasulullah  dan Aisyah memasukkan tangan bersama-sama kedalam bejana untuk mengambil air. Mungkin sebesar ember"

Shiddiq: "Atau berenang bareng dalam satu bak besar?"

Ummi: "Ummi tidak tau bang, sepertinya membutuhkan tempat yang luas untuk bisa seperti itu. Rasanya gak mungkin, karena rumah mereka kan gak luas. Allahualam"

Saya sudah ingin segera menghentikan pembicaraan ini, tapi lagi-lagi saya tersentak dengan pertanyaan Shiddiq.

Shiddiq: "Lalu kalo seorang suami punya 4 istri berarti boleh mandi bersama semuanya?"

Gubrak!!!! Saya menarik nafas dan mencoba untuk tidak memunculkan mimik wajah yang memicu ia semakin membayangkan hal-hal yang aneh.

Ummi: "Didalam hadist itu Rasulullah hanya bersama Aisyah, tidak bersama dengan Zainab atau istri lain. Karena dalam fiqh, ada batasan seorang muslimah dalam melihat aurat muslimah lainnya. Tidak boleh mereka melihat aurat muslimah lain seluruh tubuh, kecuali ada keperluan darurat semisal dokter yang mau memeriksa atau operasi"

Shiddiq: "Oh jadi suami boleh lihat aurat istri tapi antara istri gak boleh melihat aurat yang lainya. Jadi kalo punya istri 4 gak boleh sekamar bersama dong?"

Gubrak!!! Ya Allah bagaimana aku menyudahi pembicaraan ini, batinku.

Ummi: "Iya bang tidak boleh, supaya tidak saling melihat aurat satu sama lain"

Shiddiq: "Kalo dipasang tirai bagaimana?"

Ummi: "Sebaiknya terpisah, bahkan sebaiknya terpisah rumahnya. Sudah ya bang nanti kita bahas tema tentang suami istri di bahasan fiqh kedepan. Sekarang abang belum sampai materi itu"

Saya pun memanggil Aa Ali dan bertanya

Ummi: "Aa, bagaimana Aa dengan Shiddiq bisa sampai pada pembicaraan hadist tentang Rasulullah mandi dalam satu bejana dengan aisyah? Apa yang Shiddiq tanyakan saat itu?"

Aa terlihat agak sungkan menjawab, mungkin ia khawatir saya akan menegurnya.

Aa Ali: "Iya Shiddiq bertanya apakah diperbolehkan suami istri melihat.... mmmm.... ya...begitu.... lalu Aa jawab dengan hadist itu"

Ummi: "Oke nak kamu benar, kamu sudah menjawab dengan hadist yang tepat"

Saya bersyukur Shiddiq bertanya pada kakaknya, dan kakaknya menjawab dengan referensi hadist yang tepat. Andai ia bertanya pada teman belum tentu mereka akan menjawab dari sisi pandangan fiqh. Tapi saya tiba-tiba teringat bahwa setahun lalu ia pernah menanyakan hal yang serupa kepada saya tentang sejauh mana suami dapat melihat aurat istri. Waktu itu saya menjawab "Insya Allah nanti akan ada materi tersendiri tentang hukum-hukum yang mengatur suami istri, tapi tidak sekarang dibahasnya" Rupanya ia tidak puas dengan jawaban itu, sehingga secara spesifik ia bertanya pada kakaknya. Beruntung referensi Ali cukup lumayan untuk menjawab dari pandangan syariat. Pembicaraan belum selesai, Shiddiq masih bertanya dengan pertanyaan yang lebih kompleks. Tapi saya tidak ingin ia semakin membayangkan yang macam-macam.

Ummi: "Shiddiq begini aja, insya Allah nanti akan ada bahasan khusus tentang fiqh nikah, tapi tidak sekarang. Materi fiqh Shiddiq masih seputar toharoh. Sekarang sudah dulu ya tanyanya. Nanti insya Allah kita bahas kalo abang Shiddiwlq sudah agak besar dan siap membahas fiqh nikah. Materi Aa Ali saja belum sampai pada materi itu"

Aa Ali: "Iya nih Shiddiq tanya-tanya terus, Aa Ali aja belum belajar materi itu"

Segera saya alihkan pembicaraan kami sebelum lutut ini semakin lemas menjawab pertanyaannya.

Kemudian saya mengadukan perkara ini pada suami, yang dari ruang kerjanya sebenarnya ia mendengar pembicaraan kami.

Ummi: "Ummi bingung pah, rasa ingin tahunya sangat besar. Tapi kalo kita tidak menjawabnya dengan pandangan fiqh, ia akan bertanya sama orang lain yang belum tentu akan dijawab dari pandangan islam"

Bapak: "Iya betul, bisa bahaya. Tapi kita juga perlu hati-hati agar ia tidak membayangkan yang semakin macam-macam. Sepertinya abang Shiddiq ini kalo sudah besar harus diajak banyak-banyak shaum"

Hahahahaha saya pun tertawa mendengarnya.

Ummi: "Ya kita harus serius mematangkan dirinya supaya siap menikah di usia muda"

Hati ini hanya bisa berdoa semoga Allah membimbing lisan yang bodoh dan kurang ilmu ini untuk menjawab pertanyaan anak-anak dengan kebenaran yang di selimuti dengan kebijaksanaan dalam merangkai kata.

No comments:

Post a Comment