Saturday, September 26, 2015

1821

Copas...Maaf, Postingan  ini memang panjang, sekedar sharing, semoga bermanfaat... 😊

Assalamu'alaikum
Buat kita ortu yang sibuk... yuuk....Menikmati Program 1821?

Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari
Auladi.net | Fanspage Yuk-Jadi Orangtua Shalih | twit @abahihsantea

Apa itu program 1821? Program 1821 adalah program yang "menyengaja" orangtua untuk fokus dengan anak.

Di program 1821 ini suami-istri, orangtua-anak, berinteraksi secara full, mematikan segala jenis kotak: handphone, tv, laptop, kompor, mesin cuci! Entah nanti jika benda-benda ini berubah bentuk jadi tidak kotak.

Program 1821 artinya dari jam 18.00 sampai 21.00 sampai menjelang anak tidur, tidak ada lagi sambil-sambilan lagi ngurus anak dan keluarga. Sambil masak, sambil nyuci, sambil setrika, sambil buka laptop, hp, tv. Kecuali, alat-alat itu jadi sumber belajar. Itu pun sesekali. Jika seringkali bisa jadi itu tanda-tanda kita gak ngurus anak karena hanya meng-outsourcingkan anak kepada laptop, hp dan tv.

Yang belum tahu program 1821 baca lengkap tulisannya di sini: https://m.facebook.com/ParentingSchool/posts/10153296846034029

Apa saja yang dapat dilakukan pada saat 1821? Tidak mungkin kok kita kehabisan ide. Yang masih bingung, jangan khawatir, itu lebih karena sebagian kita belum terbiasa FOKUS.

Fokus itu kata kunci, alias tidak sambil-sambilan. Mencari ide itu jauh lebih ringan daripada melawan musuh terbesar 1821: tidak fokus.

Hampir semua orang yang melaksanakan 1821 jika tidak terbiasa merasakan beratnya untuk istiqomah. Berat untuk tidak menengok hp dll. Tapi jika mampu melewati dalam 3 bulan, hmm insya Allah malah nikmat dan ketagihan.

Program 1821 adalah program yang sangat sederhana (simple), praktis dan gampang dipraktikan siapapun. Tapi rasakan saja, manfaatnya sama sekali tidak sederhana.

Dengan 1821, perasaan bertanggung jawab muncul, kita merasa punya "peran" sebagai orangtua betulan, bukan hanya kebetulan jadi orangtua. Perasaan percaya diri bahwa kita dapat menjadi orangtua terbaik muncul. Akibatnya, energi positif dan cahaya kebaikan makin bersinar di keluarga kita.

Itu dari sisi orangtua pribadi. Belum sisi manfaat untuk anak sendiri, dari sisi hubugan suami istri, orangtua anak, yang makin menumbuhkan "mahabbah" di keluarga.

Mempraktikkan 1821 itu bagaikan kita memiliki program ta'lim atau halaqoh ilmu atau pesantren di rumah. Tiap hari! Sebelum anak kita dihalaqahkan di pesantrenkan ke orang lain. Anak-anak dihalaqahkan dipesantrenkan orangtuanya, tiap hari.

Demi Allah! Semua anak butuh "software" yang harus diinstal ke dalam hati dan pikirannya untuk menggerakan "hardware" untuk nanti mempengaruhi tubuhnya yaitu sikap dan perbuatannya. Jika kita tidak menginstall software pada anak kita, maka buktikkan anak kita akan mendapatkan sofware itu dari tempat lain. Bagaimana jika software itu dia dapatkan dari internet tv dan pergaulan yang buruk? Naudzubillah.

Jadi apa saja kegiatan di 1821. Banyak, tapi jika dirangkum dalam 3 kata sederhana adalah: BELAJAR-MAIN-NGOBROL. Ketiganya sebenarnya bersinggungan tapi jika dikerucutkan ya itu saja kegiatannta: BELAJAR-MAIN-NGOBROL (BMN).

Belajar itu tidak dibatasi pelajaran sekolah, tentu artinya belajar sekolah sangat penting belajar bisa juga soal-soal hal sederhana: tiap hari dibahas di rumah soal bagaimana agar bisa disenangi teman, bagaimana adab-adab sopan santun di tempat umum dll.

Main? Serius main sama anak malam-malam? Ini serius. Anak saya dibebaskan main sore hari sama teman, maka yang malam jatah main dengan orangtua. Main sama anak jelas sunnah! Itu bagian dari tarbiyah! Bagi kita main itu bisa jadi main-makn. Bagi anak? Main itu serius!

Tapi bedanya dengan main dengan siang, main di 1821 jika memungkinkan adalah permainan yang tidak memacu adrenalin atau fisik berlebihan. Jika tidak, jangan-jangan nanti malah jadi telat tidurnya, yang akan mempengaruhi jadwal bangunnya. Permainan-permainan yang tidak mengurus tenaga berlebihan misalnya: catur, congklak, main kartu, ular tangga, monopoli mencari ‘harta karun’,  mencari kutu di rambut heh. Seabrek permainan lainnya dapat kita lakukan.

Ngobrol, artinya bukan hanya ngomongin anak, tapi juga ngajak ngomong anak. Beda lho ngomongin anak dan ngajak ngomong. Ngobrol itu menyehatkan jiwa. Ingat, orang-orang berbahaya di dunia bukanlah orang yang banyak bicara tapi justru orang yang tidak bisa bicara.

Bukan, bukan artinya orang bisu bahaya. Ini orang bisa bicara, tapi tidak bisa mengungkapkan apa yang dipikirkan dan dirasakannya.

Apa pekerjaaan orang gila sebelum gila, banyak ngomong apa banyak diam? Apa pekerjaan orang bunuh diri sebelum bunuh diri? Banyak ngomong atau banyak diam? Periksa semua pelaku pembunuhan massal, mutilasi dan sodomi? Orang yang diam atau banyak bicara?

Apakah BMN harus dilakukan setiap 1821 semuanya? Atau boleh B saja, M saja atau N saja? Terserah Anda, tak usah kaku lah. Boleh ketiganya sekaligus, boleh hanya B dan M saja tiap hari, boleh bergantian tiap hari, tidak ada patokan baku.

Bagaimana jika suami saya datangnya jam 19? Bagaimana jika anak saya tidurnya jam 20? Gak usah ribet dan rebut, jika bisanya mulai jam 19 laksanakan 1921. Jika anak tidur jam 20, laksanakan 1820. Itu juga masih bagian Anda mempraktikan 1821. Jika tidak bisa mengambil semuanya, jangan tinggalkan semuanya. “Ma lam yudrooku kulluhu, laa yudrooku kulluhu”.

Program 1821 adalah program yang sangat sederhana (simple), praktis dan gampang dipraktikan siapapun. Tapi rasakan saja, manfaatnya sama sekali tidak sederhana. Seperti beberapa kalimat menyenangkan berikut dari beberapa orangtua yang sudah menikmati 1821.

“Abah, sejak melaksanakan program 1821 dari pelatihan abah, suami saya kalau pulang kerja sekarang tidak lagi megang handphone. Dia main sama anak. Betapa bahagianya saya dengan apa yang dilakukan suami. Bahkan terus ‘ketagihan’ ngurus anak, saat pagi, saat saya sibuk di dapur bahkan suami saya sekarang yang sibuk ngurus anak, sementara saya sibuk ngurus dapur.”

“Abah Ihsan, makasih banget 1821 nya, sampai bikin mba Rasya sempat nangis minta jam lebih. Kami bahagia, ketawa-ketawa, kemana kami selama ini? Berasa jadi orangtua tak berguna! Padahal hal yang menurut kami sepele cuma ngaji, baca buku, main hompimpa. Misalnya mbak belajar perbedaan dari hompimpa itu bagaimana, apa kriteria menang dalam hompimpa. Banyak hal lain yang dapat dipelajari dari hal sepele seperti itu. Lanjut main ayunan pake sarung. Jam 8 kami sudah karena mau tidur. Mbak Rasya nangis Abah, minta main lagi bareng kita. Ya Allah…. Abah, dia sangat bahagia sekali. Baru kali ini saya ngeliat dia sebahagia itu bersama kami. Setelah main bersama kami, dia kelaperan. Padahal sudah makan malam. Saya jadi gak susah nyuruh dia makan. Alhamdulillah dapat dobel, makasih abah!”

****
Ingin anak shalih? Yuk Jadi Orangtua Shalih. Mendidik Generasi Meraih Ridlo Ilahi.

Silahkan baca sumbernya disini lebih lengkap dg bbrp contoh foto kegiatan B & N 1821: https://www.facebook.com/ParentingSchool/posts/10153566669019029

Sunday, September 13, 2015

Resep Ibu Rumah Tangga Bahagia

Penulis : Dewi Rhainy*
Kadang-kadang, kita sebagai ibu rumah tangga ada rasa seperti ini, “Kenapa kok aku cuma begini-begini saja, ya?” Atau, “Duh, bolak-balik cuma ngurusin anak sama suami saja!” Atau lagi, “Coba kalau dulu aku tetap kerja… Ehm…pasti deh enggak kayak gini!”
Setiap muncul “sang rasa minder” itu, badan jadi lemas tak bertenaga, tak bersemangat, dan semua terlihat buruk. Dan biasanya, rumah jadi berantakan, anak-anak tidak terurus…. Malah lebih buruk lagi, penampilan jadi semerawut karena jadi malas mandi hahaha….

Hampir semua orang, di dunia ini terutama ibu-ibu rumah tangga yang full-time mengurus rumah dan anak-anak seperti saya pernah mengalami hal seperti ini, termasuk saya (saya tahu hal ini dari curhatnya teman-teman saya yang juga memilih profesi menjadi ibu rumah tangga). Karena minder, dulu biasanya saya menunggu sampai ada sahabat yang menegur. Saya pun harus berusaha melewati masa-masa minder dengan bersusah payah. Tetapi sekarang, tidak lagi…! Mau tahu resepnya?

Mudah-mudahan resep saya ini bisa dipakai oleh semua sahabat yang sedang merasa just the ordinary housewife. Atau, mungkin malah sahabat yang desperate housewife hehehe.… Resep ini hanya berdasarkan pengalaman saya semata. Jadi, jika terasa biasa-biasa saja atau tidak bermutu, maaf, saya hanya berusaha sedikit berbagi.

Resep pertama, jangan pernah membandingkan suami, anak-anak, dan rumah yang kita miliki dengan suami, anak-anak, dan rumahnya ibu-ibu lain. Karena seperti pepatah “rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau”, suaminya ibu-ibu lain pasti terlihat lebih ganteng dari suami kita yang setiap hari kita lihat hehehe…. Sadari bahwa suami, anak-anak, juga sahabat-sahabat Anda hanyalah manusia biasa. Mereka punya kelebihan juga punya kekurangan, sama seperti Anda.
Jadi, jangan terlalu berharap mereka akan sempurna seperti yang Anda harapkan. Maklumi saja…. Dan, yang paling penting adalah bagaimana caranya kita menjadi istri yang baik, yang dapat dipercaya oleh suami dan anak-anak, tanpa menuntut mereka terlalu banyak.
Resep kedua, jangan pernah mengeluh, karena keluhan bukannya menyelesaikan masalah, malah makin membuat kita merasa “terpuruk”.
Resep ketiga, STOP menonton sinetron! Karena, walaupun kadang berdasarkan kisah nyata, sinetron akan membuat kita makin tidak berpijak ‘di dunia nyata’. Kalaupun mau menonton televisi, cari acara-acara yang ‘positif’ seperti acaranya Oprah Winfrey mungkin. Di acara itu kadang-kadang ada cerita tentang perjuangan seorang ibu yang anaknya divonis tidak dapat berjalan, ternyata dengan keyakinan dan kerja keras serta doa sang ibu malah vonis itu tidak berlaku. Dengan kisah-kisah seperti itu, mungkin kita dapat lebih bersyukur karena ternyata ‘di luar sana’ banyak orang yang tidak seberuntung kita.
Resep keempat, perbanyaklah membaca, bukan hanya resep-resep makanan sehat yang membuat suami betah di rumah, atau membuat anak-anak sehat saja. Bukan hanya buku-buku tentang mengatur bagaimana supaya gaji suami cukup untuk dihabiskan sebulan. Tetapi bacalah juga buku-buku yang isinya ‘memotivasi’ kita untuk lebih percaya diri. Contoh, buku-buku kisah sukses ordinary people yang berubah menjadi extra-ordinary people, melalui hobi mereka menulis, hobi mereka belanja, dan lain-lain.
“Gimana mau beli buku? Wong untuk belanja lauk sehari-hari saja mesti diirit-irit?” Nah, ini dia… Jawabannya adalah pinjam sama tetangga (kayak saya). Atau, baca buku di rumah baca sambil menunggu anak-anak pulang dari sekolah. Yang lain, mendaftarlah jadi anggota perpustakaan terdekat dengan sekolah atau rumah.
Resep kelima, perbanyaklah peduli pada orang-orang yang ‘kelihatannya’ lebih susah dari kita (saya bilang ‘kelihatannya’ karena kadang yang kita lihat susah, ternyata bisa lebih bahagia). Contohnya, pembantu rumah tangga kita yang harus meninggalkan anak-anaknya di rumah untuk membantu mencuci atau membersihkan rumah kita. Resep ini hampir sama dengan resep ketiga, intinya adalah ‘menyadari bahwa ada orang lain yang lebih tidak beruntung dari diri kita.
Resep keenam, banyak bersedekah karena bersedekah membuka jalan yang tertutup. Bukannya sombong, lho! Tetapi, setelah saya bersedekah, biasanya lalu ada ‘sesuatu yang baik’ yang terjadi pada diri saya, anak-anak yang sakit jadi sembuh, dapat rezeki ‘tambahan’ yang tidak terduga, atau hal-hal baik lainnya. Lagi-lagi ini maaf, berdasarkan pengalaman pribadi saya, lho ya… Tetapi, bukankah semua agama di dunia ini menganjurkan kita untuk bersedekah/berbagi?
Resep ketujuh, buat hobi baru. Yang senang membaca, coba belajar untuk menulis. Yang senang menjahit atau memasak, coba tawarkan jahitan atau masakan ke tetangga-tetangga. Siapa tahu setelah coba-coba malah menghasilkan sesuatu. Bukan hanya meningkatkan rasa percaya diri tetapi juga menambah penghasilan.
Resep kedelapan, bergabunglah dengan kelompok-kelompok kegiatan yang anggotanya ibu-ibu rumah tangga. Atau, buat kelompok sesama ibu rumah tangga yang berhobi sama, misalnya kelompok ibu yang senang menanam, kelompok membaca, kelompok menulis, dan kelompok memasak, tetapi jangan kelompok arisan ya, hehehe…. Sehingga, kita bisa saling bertukar pendapat, bertukar pengalaman, dan saling menyemangati.
Resep kesembilan, dan ini adalah resep paling manjur (buat saya), BERSYUKURLAH kepada ALLAH. Dengan bersyukur atas segala karunia-Nya dalam setiap keadaan, susah maupun senang, semua masalah akan terasa ringan. Semua kendala pasti akan terlihat pemecahannya, semua rasa minder akan sirna, karena ternyata Allah pasti akan memberikan ‘hanya’ yang terbaik buat kita umat-Nya. Dan, bersyukurlah karena kita ditakdirkan menjadi ibu rumah tangga, yang dari tangan-tangan kitalah terbentuk generasi mendatang yang lebih baik.

Semoga resep saya manjur juga ya buat Anda. Salam Pro Ibu Rumah Tangga!

Like&Share!
Sumber : andaluarbiasa.com

*Dewi Rhainy lahir di Koln, Jerman Barat, pada 18 November 1970 dan alumnus Teknik Industri Universitas Trisakti, Jakarta. Ibu rumah tangga dengan dua orang putra-putri ini tinggal di Tangerang.