Monday, January 16, 2017

Menanggapi Pertanyaan Seksual Anak (2)

Kiki Barkiah 

Pertanyaan anak-anak tingkat tinggi. Sampai sang ibu menjawab dengan perlahan sambil berfikir dan berdoa "Robbisyrohlii shodrii wayassirlii amrii wahlul uqdatammil lisanii yafqohu qoulii"

Saat itu saya sedang halaqoh agama, membahas sirah nabi Isa tentang peristiwa kehamilan bunda Maryam menjelang kelahirannya.

Shiddiq: "Ummi kenapa perempuan yang hamil tapi gak menikah dia merasa malu dan takut diomongin orang?"
Ummi: "Jadi gini, agar istri bisa hamil, ada proses yang harus dilakukan oleh suami istri. Tapi proses itu hanya boleh dilakukan oleh suami istri setelah sah menikah. Kalo dilakukan sebelum menikah, perempuan bisa hamil tetapi mereka melanggar aturan Allah. Dan itu merupakan perbuatan dosa besar dalam islam. Itulah kenapa orang yang hamil tetapi belum menikah, dia merasa malu karena itu melanggar aturan Allah"
Shafiyah: "How can ummi? How can the girls become pregnant?"
Ummi: "How can nya seperti apa nanti kita bahas pelajarannya kalo teteh sudah besar.  Kalo sekarang teteh belum bisa ngerti walau dijelasin. Yang jelas janin akan terbentuk kalo ada pertemuan antara sel sperma dan sel ovum. Seperti film tentang perkembangan bayi yang pernah kita lihat di museum tubuh waktu itu"
Shiddiq: "Oh.... i know maybe they have to close each other"
(Gubrak!!! Sepertinya Shiddiq mengkolerasikan peristiwa perkawinan kelinci peliharaan kami.)
Shafiyah: "Oh itu ya pacar-pacaran itu?"
(Gubrak!!! Mereka bisa menyimpulkan sendiri)
Ummi: "Ya makanya di dalam islam tidak boleh berpacaran. Tidak boleh berdekatan dan bersentuhan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahrom. Di Al-quran disebutkan bahwa kita dilarang mendekati perbuatan zina"
Shiddiq: "Jadi Maryam itu bisa hamil walaupun gak ada suaminya? Jadi gimana apa sel spermanya bisa langsung terbang ke sel ovum?"
Ummi: "Abang atas ijin Allah itu bisa. Itu mukjizat abang! Allah meniupkan ruh janin dalam perut bunda maryam. Hanya maryam satu-satunya yang mengalami hal itu"
Shiddiq: "Ummi, jdi yang kita sekarang boleh sentuh, kita gak boleh nikahi . Tapi yang kita gak boleh sentuh sekaranb nanti kita boleh nikahin, gitu kan ummi?"
(Masya Allah.....Kesimpulan dasyat)
Ummi: "Ya dalam islam itu disebut mahram artinya orang yang haram untuk dinikahi. Tetapi menyentuh mahrom juga ada aturannya. Hanya boleh menyentuh secara wajar. Gak boleh menyentuh aurat utama dan bagian-bagia  yang pernah ummi ajarkan dulu"
Shiddiq: "Ummi, tapi kenapa bi xxxx dan om xxxx pacaran? Kenapa harus tunangan dulu, kenapa gak cepet nikah aja? They already touched each other padahal belum nikah"
(GUBRAK!!!! Anak-anak adalah pengamat yang kritis)
Ummi: "Ya ummi kan sudah sampaikan samamereka kalo di dalam islam itu tidak boleh, tapi mereka memilih jalan itu. ya pokoknya kalian tau bahwa di islam gak boleh pacaran. Jadi kalian gak boleh ikutin"
Shiddiq: "Kapan sih mereka nikah? Nanti malah keburu hamil lho!!"
(Gubrak!!! Saat itu saya berharap percakapan ini disudahi saja, saya khawatir salah bicara)
Ummi: "Iya mudah-mudahan tidak sampai seperti itu. Insya Allah sebentar lagi mereka menikah"
Shiddiq: "But how about if om yyyy do something really bad dan mereka gak jadi menikah, padahal mereka udah close each other?"
(Ya Allah rasanya gak percaya otak anakku yang berumur 7 tahun mampu menyimpulkan seperti itu)
Ummi: "Ya udah jadi pelajaran buat kita aja, kalo kita baru boleh berdekatan dengan lawan jenis yang bukan mahrom kalo kita sudah menikah. Udah yuuk kita terusin sirahnya. Ceritanya gak selesai-selesai kalo Shiddiq nanyaaaa terus"
Shafiyah: "Iya nih Shiddiq nanya terus, ceritanya gak selesai-selesai"

Lalu percakapan pun teralihkan dengan lanjutan cerita sirah nabi Isa. Saya pun hampir berkeringat dingin dengan percakapan ini. Ya Allah ampuni hamba bila ada yang salah. Namun bagi saya saat itu berkata kebenaran lebih baik daripada ditutupi lalu kemudian mereka bertanya pada pihak lain yang belum tentu akan menjawab dalam pandangan islam.

No comments:

Post a Comment