Tuesday, May 2, 2017

Parenting Ala Kiki Barkiah

#parentingalaKikiBarkiah

Konsep agama yang ditekankan di usia 0-7 :
membangkitkan kesadaran Allah sebagai Rabb (kholiqon, Raziqwon, malikan)
Apa yang kita harus lakukan?
* Menciptakan atmosfir keshalihan dalam lingkungan sekitar, role model menjadi kunci kesuksesan
* Diawali dengan membangun gambaran positif tentang Allah, tentang Rasulullah, tentang ibadah, tentang Al-quran
* Jangan mengawali dengan pemaksaan pelaksaan syariatnya, tumbuhkan kecintaan terhadap agamanya
* tumbuhkan kecintaan kepada Allah sebelum memintanya beribadah
* tumbuhkan kecintaan kepada Al-Quran sebelum memintanya belajar iqro dan menghafal Al-quran
===================
Masa ini hanya masa pengenalan, belum masa pembiasaan atau pelatihan yang serius
Pengenalan yang paling sederhana adalah melihat lingkungan sekitar
1. Membiasakan anak berada dalam suasana kegiatan beribadah
2. Membangun imajinasi positif tentang ibadah
3. Mengajak anak terlibat dalam kegiatan beribadah tanpa paksaan
4. Mengajarkan mereka untuk menghargai orang yang sedang beribadah dengan penuh kebijaksanaan
5. Memperdengarkan Al-quran secara berulang
6. Membacakan kisah dalam membangun imajinasi positif tentang Allah, Rasulullah, Al-quran dan ibadah
7. Mengajarkan sikap kasih sayang terhadap makhluk Allah (hewan, tumbuhan manusia)
8. Memperkenalkan berbagai kebaikan, perilaku baik dan kebiasaan baik secara langsung dalam kehidupan sehari-hari
9. Memperkenalkan berbagai kebaikan, perilaku baik dan kebiasaan baik melalui buku, permainan pura-pura atau cerita
10. Memberikan pengertian tentang perilaku buruk, salah, atau tidak sopan saat mengalami peristiwa yang berkaitan dengan hal tersebut atau dengan menggunakan kisah dari buku
11. Memperkenalkan kisah nabi melalui buku cerita singkat atau menceritakan kembali dengan bahasa sederhana dengan bantuan ilustrasi buku
12. Memperkenalkan kisah nabi melalui film kartun
13. Memperkenalkan cuplikan kisah keteladanan dari sirah Rasulullah SAW dan sahabat melalui buku cerita singkat atau menceritakan kembali dengan bahasa sederhana dengan bantuan ilustrasi buku
14. Memberikan konsep agama melalui penggalian hikmah dan membaca buku dengan bahasa yang sedehana
15 Menumbuhkan kecintaan anak terhadap mesjid dengan sering mengajaknya shalat berjamaah, tanpa paksaan
16 Mencontohkan doa-doa singkat langsung dalam keseharian
=<<<<<=<==============<<
harapan: Usia 7 "Pucuk dicinta ulam tiba"
diharakan mereka menyambut masa pelatihan/tadrib dengan penuh kesiapan dan kebahagiaan
===========================
bagaimana metode yang digunakan?
1. Penuhi kasih sayang, penuhi rasa aman, agar mereka percaya pada dunia (khusunya di setahun pertama)
2. Pendidikan melalui keteladan
3. Pendidikan melalui kisah teladan
4. Pendidikan melalui penggalian hikmah
5. Pendidikan melalui nasihat
Belum ada pendidikan melalui hukuman dalam hal ibadah
=======================
Masa tadrib 7-10 tahun
konsep agama yang ditekankan di usia 7-10 :
membangkitkan kesadaran Allah sebagai Malik (waliyan dan hakiman)
Apa yang perlu kita lakukan?
1. Mulai menngajarkan shalat dan menjalankan shalat 5 waktu
2. Mulai mengajarkan dan melatih anak melakukan ibadah lainnya seperti puasa dll
3. Terus menyiram dan memupuk benih keimanan sehingga anak-anak dapat:
- Menundukkan hati untuk mengagungkan Allah
- Menundukkan hati untuk mengagungkan perintah dan larangan Allah
Sehingga ketika iman telah merasuk jiwa maka hati siap untuk menerima dan melaksanakan Al-quran.
1. mulai mengenalkan nilai
2. mulai mengenalkan perintah dan larangan
3. anak laki laki didekatkan ke ayah, anak perempyan didekatkan ke ibu
harapan dari proses ini: 10 tahun anak-anak berkomitmen melakukan ibadah sebagai buah dari keimanan
==========<<<<<<<==========<<
bagaimana metode yang digunakan?
1. Pendidikan melalui kurikulum sistematis
2. Pendidikan melalui nasihat
3. Pendidikan melalui keteladanan
4. Pendidikan melalui kisah teladan
5. Pendidikan melalui penggalian hikmah
6. Pendidikan melalui penjagaan kesucian fitrah
7. Pendidikan melalui pelatihan dan pembiasaan
===<<<===<<======<<<
Masa pre akil baligh akhir 10-14 tahun
konsep agama yang ditekankan di usia 10-14:
Membangkitkan kesadaran Allah sebagai Ilah (totally worship)
Apa yang kita lakukan?
Menjadi pendamping akhlak (chaperon)
Mulai memisahkan kamar laki-laki dan perempuan
mulai memberlakukan hukuman
Anak perempuan didekatkan kepada ayah, anak laki-laki didekatkan kepada ibuagar memperoleh sosok lawan jenis yang ideal
harapan dari proses ini: ketika anak akil baligh, anak telah:
1. Mengetahui tujuan hidupnya
2. Rampung mengetahui garis besar hukum-hukum Allah
3. Siap melaksanakan perintah dan larangan Allah
sehingga di usia >15 anak menjadi personal yang berakhlak mulia sera tunduk dan taat terhadap perintah Allah dan Rasul-Nya

Copas from bund Angga Devi

Monday, January 16, 2017

Mendidik Generasi Pengislah di Akhir Zamsn

Mendidik Generasi Pengislah Di Akhir Zaman
disusun oleh: Kiki Barkiah

“Islam datang dalam keadaan yang asing, akan kembali pula dalam keadaan asing. Sungguh beruntungnlah orang yang asing” (HR. Muslim no. 145).

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
طُوبَى لِلْغُرَبَاءِ فَقِيلَ مَنِ الْغُرَبَاءُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ أُنَاسٌ صَالِحُونَ فِى أُنَاسِ سَوْءٍ كَثِيرٍ مَنْ يَعْصِيهِمْ أَكْثَرُ مِمَّنْ يُطِيعُهُمْ

“Beruntunglah orang-orang yang terasing.” “Lalu siapa orang yang terasing wahai Rasulullah”, tanya sahabat. Jawab beliau, “Orang-orang yang shalih yang berada di tengah banyaknya orang-orang yang jelek, lalu orang yang mendurhakainya lebih banyak daripada yang mentaatinya” (HR. Ahmad 2: 177. Hadits ini hasan lighoirihi, kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth)

Generasi pengislah akhir zaman adalah mereka yang asing dan berbeda dengan kondisi masyatakat kebanyakan. Generasi pengislah akhir zaman adalah golongan terbaik yang menyeru manusia kepada yang ma'ruf dan mencegah kemungkaran.

“Dan hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang mengajak (manusia) kepada kebaikan, menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah kemungkaran…"(QS. Ali Imran: 104)

Generasi pengislah akhir zaman adalah orang-orang yang hidup untuk ummat dan tidak hanya hidup untuk dirimya sendiri.

Sayyid Quthb “Innal ladzii ya’iisyu li nafsihi, ya’iisyu shaghiiran wa yamuutu shaghiiran. Wal ladzii ya’iisyu li ummatihi ya’iisyu ‘azhiiman kabiiran wa laa yamutu abadan.” Sesungguhnya orang yang hidup untuk dirinya sendiri ia akan hidup kecil dan mati sebagai orang kecil. Sedangkan orang yang hidup untuk umatnya ia akan hidup mulia dan besar, serta tidak akan pernah mati.

Generasi Pengislah Akhir Zaman adalah Generasi yang Sholih, Muslih, Hafidz Quran dan Produktif

Ciri Ciri Generasi Pengislah:
Generasi yang berkomitmen dalam akidah dan ideologi Islam
Generasi yang berkomitmen dalam syariah
Generasi yang berkomitmen dalam berakhlak yang sesuai dengan nilai-nilai islam.
Generasi yang mampu melakukan islah pada dirinya dan orang lain
Generasi yang mampu melakukan islah pada lingkungan dan alam sekitar
Generasi yang mampu melakukan islah pada dunia islam
Generasi yang mengenal potensi dirinya dan mampu memilih peran dalam peradaban
Generasi yang dapat mengoptimalkan peran kekhalifahan yang di emban untuk memajukan peradaban

Metode Pendidikan yang dapat ditempuh dalam membangun kualifikasi tersebut, diantaranya:
1. Pendidikan melalui kurikulum sistematis
2. Pendidikan melalui nasihat
3. Pendidikan melalui keteladanan
4. Pendidikan melalui kisah teladan
5. Pendidikan melalui penggalian hikmah
6. Pendidikan melalui hukuman
7. Pendidikan melalui penjagaan kesucian fitrah
8. Pendidikan melalui pelatihan dan pembiasaan
9. Pendidikan melalui tarbiyah langsung dari Allah (learning by taqdir)
10. Pendidikan melalui pemberian amanah dan tanggung jawab

Upaya dalam membangun generasi yang Berkomitmen dalam Akidah dan Ideologi Islam

1.1 Mengenalkan anak pada Allah sejak dini

            Mengenalkan konsep   Allah sebagai pencipta

            Mengenalkan konsep  Allah sebagai pemberi rezeki

              Mengenalkan konsep Allah sebagai Pemilik

               OUTPUT:
               Melahirkan generasi yang memiliki kepribadian yang selalu bersyukur kepada Allah serta mewujudkan rasa syukur mereka dengan mencari dan mempergunakan karunia Allah di jalan yang diridhoi Allah

              Mengenalkan konsep Allah sebagai pemimpin
              Mengenalkan konsep Allah sebagai pembuat hukum
              Mengenalkan konsep Allah sebagai pemerintah
               OUTPUT:
               Melahirkan generasi yang berupaya menjalankan seluruh aktifitas yang sejalan dengan hukum Allah

            Mengenalkan konsep  Allah yang disembah

               OUTPUT:
               Seluruh amal perbuatan anak-anak tidak sia-sia karena ditujukan kepada Allah

1.2 Mengenalkan anak pada islam sejak dini
     1.2.1 Memahamkan mereka konsep "Islam The Way of Life"
               OUTPUT:
                             Melahirkan generasi yang termotivasi untuk belajar Al-Quran dan sunnah sepanjang hayat
                              Melahirkan generasi yang menjadikan islam sebagai landasan hukum dalam bertindak

     1.2.2. Memahamkan mereka konsep syumuliatul islam dalam sisi ruang, waktu, dan seluruh aktifitas
               OUTPUT: Melahirkan generasi yang beristiqomah dalam iman islam

     1.2.3 Memahamkan mereka perintah dan larangan Allah sebelum usia baligh
               OUTPUT: Melahirkan generasi yang siap melaksanakan hukum Allah di usia baligh

1.3 Memahamkan anak tentang konsep hari akhir dan negeri akhirat
      1.3.1 Memahamkan konsep pertanggungjawaban amal perbuatan
               OUTPUT:
              Melahirkan generasi yang selalu bersemangat dalam beramal baik

1.4 Memahamkan mereka konsep makhluk ghaib
     1.4.1 Memahamkan bahwa syaitan adalah musuh nyata baginya
              OUTPUT:
              Anak selalu berupaya melawan dan menjauhi syaitan serta perbuatan yang akan menjadikan dirinya sebagai teman syaitan
     1.4.2 Memahamkan fungsi dan tugas malaikat
              OUTPUT:
               Melahirkan generasi yang bersemangat meraih keutamaan dalam beramal
     1.4.3 Memahamkan keberadaan jin dan sifat sifatnya
              Output:
               Anak mengetahui aturan Allah terkait interaksi manusia dengan Jin
               Anak berupaya menghindarkan diri dari gangguan jin
               Melahirkan generasi yang menjauhi perbuatan syirik

Upaya yang dapa kita lakukan dalam menanam benih keimanan:
1. Mengajarkan Ilmu yang menumbuhkan, mengokohkan dan menyuburkan keimanan
2. Memberikan teladan dalam amal sebagai buah dari keimanan
3. Menjaga dari segala sesuatu yang akan merusak keimanan
4. Menggali hikmah kejadian sehari-hari agar semakin menyuburkan keimanan
5. Memastikan keistiqomahan islam

2. Upaya dalam membangun generasi yang berkomitmen dalam syariah

2.1 Memahamkan konsep “Rasulullah sang Teladan” dan menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah SAW sejak dini
     OUTPUT:
   Melahirkan generasi yang menjadikan Rasulullah SAW sebagai idolanya
2.2 Memahamkan konsep bahwa mengaplikasikan islam berarti meneladani/itiba Rasulullah
     OUTPUT:
    Melahirkan generasi mengaplikasikan sunnah Rasulullah dimulai dari hal-hal sederhana dalam keseharian

Upaya yang dapat kita lakukan dalam mengenalkan Rasulullah Saw kepada anak:

* Menjadikan sirah Rasulullah SAW dan para nabi sebagai kurikulum wajib pendidikan anak dalam keluarga

* Mengkorelasikan kejadian yang kita alami dengan kehidupan Rasulullah SAW baik perbuatan maupun perkataan beliau

* Menghadirkan sosok Rasulullah SAW sebagai idola bagi anak serta menghindari segala hal yang membuat anak mengidolakan yang lainnya

3. Upaya mendidik generasi yang berkomitmen dalam berakhlak yang sesuai dengan nilai-nilai islam.

3.1 Melahirkan generasi yang memiliki akhlak yang baik terhadap Allah

      3.1.1  Membangun kedekatan anak dengan Allah

               OUTPUT:
target sederhana di masa kecil:
Anak mengaplikasikan doa-doa harian
Anak senantiasa berdoa kepada Allah atas apapun yang diinginkan
Anak terlatih melakukan Qiyamul lail di usia 14 tahun
Anak tebiasa melakukan dzikir Al-matsurat minimal 1x sehari
Anak terbiasa membaca Al-quran setiap hari
Anak memiliki budaya menghafal Al-Quran setiap hari

Target jangka panjang:
melahirkan generasi yang dicintai Allah sehingga ia melihat, mendengar, berbuat dan melangkah dengan taufik dan hidayah dari Allah

Dari Abu Hurairah R.a ia berkata, Rasulullah SAW bersabda "Sesungguhnya Allah Azza Wa Jalla berfirman "Barangsiapa memusuhi wali Ku, sungguh Aku mengumumkan perang kepadanya. Tidaklah hambaKu mendekat kepadaKu dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada hal hal yang Aku wajibkan kepadanya. HambaKu tidak henti hentinya mendekat kepada Ku dengan ibadah ibadah sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia meminta kepada Ku, Aku pasti memberinya. Dan jika ia meminta perlindungan kepadaku, Aku pasti melindunginya. Aku tidak pernah ragu ragu terhadap sesuatu yang Aku kerjakan seperti keragu raguanku tentang pencabutan nyawa orang mukmin. Ia benci kematian dan Aku tidak suka menyusahkannya." (H.R Bukhari)

     3.1.2 Membangun sifat Ikhlas dan ihsan dalam diri anak

               OUTPUT:
Anak dapat melakukan ibadah mahdoh dengan baik dan benar pada usia baligh

Anak gemar melakukan kebaikan dan memaknainya sebagai bentuk ibadah kepada Allah

3.2 Melahirkan generasi memiliki akhlak yang baik terhadap manusia

     3.2.1 melahirkan generasi yang memiliki akhlak yang baik terhadap orang tua

               OUTPUT:
Anak memahami dan mengaplikasikan birul walidain
Anak hormat dan patuh pada guru

Yang perlu dipahami sebelum meminta anak mengamalkan biruul walidain

CInta itu Sebab Akibat

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, beliau meriwayatkan:

أَنَّ الأَقْرَعَ بْنَ حَابِسٍ أَبْصَرَ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- يُقَبِّلُ الْحَسَنَ فَقَالَ إِنَّ لِى عَشَرَةً مِنَ الْوَلَدِ مَا قَبَّلْتُ وَاحِدًا مِنْهُمْ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّهُ مَنْ لاَ يَرْحَمْ لاَ يُرْحَمْ ».

“al-Aqra’ bin Habis suatu ketika melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang mencium al-Hasan -cucu beliau-, maka dia berkata: ‘Saya memiliki sepuluh orang anak namun saya belum pernah melakukan hal ini kepada seorang pun di antara mereka.’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, ‘Sesungguhnya barang siapa yang tidak menyayangi maka dia tidak akan disayangi.’.” (HR. Bukhari dan Muslim, ini lafazh Muslim)

Banyak fenomena kenakalan remaja yang pada awalnya disebabkan karena kegagalan dalam membentuk lingkungan sosial dalam keluarga. Terutama terjadi pada saat anak memiliki kebutuhan dalam membangun hubungan peer group/teman sepermainan Pada saat ini, perilaku anak anak akan dipengaruhi oleh teman-teman mereka. Bagaimana cara mereka menghabiskan waktu, bagaimana cara mereka menggunakan uang saku, bagaimana cara mereka menggunakan teknologi, bagaimana mereka membangun konsep diri, bahkan termasuk bagaimana mereka berperilaku seksual. Semakin sedikit cinta dan kasih sayang yang kita berikan semakin sedikit pengaruh yang dapat kita berikan. Jika pengaruh orang tua lebih sedikit maka akan ada pengaruh lain yang mempengaruhinya
Permasalahanya, dapatkah anak kita menangkap cinta dari kekasaran? Dapatkah anak kita menangkap cinta dari kedzholiman?

Diriwayatkan oleh Muslim dari Aisyah r.a: rasulullah SAW bersabda “Sesungguhnya kelembutan tidaklah terdapat pada sesuatu melainkan akan menghiasinya, dan tidaklah dicabut dari sesuatu melainkan akan mencemarinya”

Dapatkah anak kita menangkap cinta dari kemarahan yang berlebihan?

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya diantara istri-istrimu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka, dan jika kamu memaafkan dan tidak/   r.r.r. memarahi serta mengampuni (mereka), maka sesungguhnya Allah Maha Pengamun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), di sisi Allah-lah pahala yang besar” (Q.S At Taghabun [64]:14-15)

Banyak pemasalahan pergaulan bebas pada anak yang diawali dari merenggangnya hubungan mereka dengan orang tunya. Banyak keregangan orang tua dan anak yang diawali dengan komunikasi menyimpang. Konflik bertahun-tahun terjadi antara orang tua dan anak dan menguras EMOSI kedua belah pihak.

Bila hal ini terjadi maka sangat mungkin muncul konflik berikut:
a. Anak tidak mau lagi dekat dengan ortu.
b. Anak tidak mau lagi berbagi dan bercerita dengan ortu.
c. Anak tidak mau lagi mendengar kata-kata ortu
d. Anak tidak mau menuruti perintah ortu

“Berilah kemudahan dan jangan mempersulit, Berilah kabar gembira dan jangan membuat mereka lari..” [HR Bukhari dan Muslim]

Jika hal diatas terjadi,  maka muncul lagi konflik:
Anak semakin jauh dari nilai-nilai kebaikan
Anak semakin jauh dari koridor syariat Allah

"Dan tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, sehingga orang yang ada rasa permusuhan antara kamu dan dia akan seperti teman yang setia. Dan (sifat-sifat yang baik itu) tidak akan dianugrahkan kecuali kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar" (Q.S Fushshilat 34-35)

     3.2.2 Membangun generasi yang memiliki akhlak yang baik terhadap muslim
               OUTPUT:
1. Melahirkan generasi memiliki budaya saling menasihati
2. Melahirkan generasi memiliki budaya tolong-menolong dalam kebaikan
3. Melahirkan generasi melakukan amar ma’ruf nahi mungkar di muka

      3.2.3 Membangun generasi memiliki akhlak yang tepat terhadap non Muslim

              OUTPUT:

Anak bersikap saling menghormati dan menghargai perbedaan agama
Anak mengenal aturan islam yang mengatur hubungan dengan muslim dengan non muslim

3.3 Anak memiliki akhlak yang tepat terhadap lawan jenis

     OUTPUT:

1. Anak mengenal adab-adab pergaulan dengan lawan jenis yang diatur oleh islam
2. Anak terhindar dari fitnah yang berkaitan dengan kebebasan pergaulan lawan jenis

3.4 Melahirkan generasi yang memiliki akhlak yang baik terhadap alam

     3.4.1 Memahamkan konsep khalifah di muka bumi

     3.4.2 Merangsang anak untuk melakukan pemanfaatan alam

            OUTPUT:
Melahirkan generasi yang selalu berusaha menjaga alam dan tidak menyianyiakan sumber daya alam
Melahirkan generasi yang memiliki budaya mengelola sumber daya alam

3.5 Melahirkan generasi yang memiliki kepribadian/karakter mulia

      Metode yang dapat kita lakukan:
1. Pendidikan melaui pengajaran (kurikulum sistematis, kisah teladan)
2. Pendidikan melalui keteladanan
3. Pendidikan melalui simulasi kegiatan
4. Pendidikan melalui ujian dan tantangan
5. Pendidikan melalui pemberian amanah dan tanggung jawab

4. Mendidik generasi yang mampu melakukan islah pada dirinya dan orang lain

     4.1 Memahamkan konsep mencintai karena Allah membenci karena Allah

OUTPUT:
Melahirkan generasi yang memiliki budaya saling tolong menolong dalam kabaikan dan ketaqwaan
Melahirkan generasi yang menghindarkan diri dari sikap saling tolong-menolong dalam keburukan dan kemaksiatan

     4.2 Melatih anak berkomunikasi efektif dan bekerjasama dalam tim

OUTPUT:
     Melahirkan generasi yang memiliki akhlak komunikasi yang baik dengan orang lain
     Melahirkan generasi yang bersemangat membangun  kerjasama dalam fisabilillah

5. Mendidik generasi yang mampu melakukan islah pada lingkungan dan alam sekitar

      5.1 Menumbuhkan ghiroh pada agama dalam diri anak

     5. 2 Memahamkan konsep amar ma’ruf nahi mungkar

     OUTPUT:
Anak memiliki jiwa yang senantiasa melakukan perbaikan (islah) pada lingkungan sekitar

6. Mendidik generasi yang mampu melakukan islah pada dunia islam

        6. 1 Memahamkan konsep muslim itu bersaudara

     OUTPUT:
Melahirkan generasi yang enjunjung tinggi ukhuwah islamiyah dan memperlakukan sesama muslim layaknya saudara

     6.2 Anak mengenal isu-isu global dunia islam

     OUTPUT:
Anak memiliki kepedulian terhadap nasib saudara-saudara muslim di palestina yang diwujudkan dalam hal-hal sederhana seperti doa dan dana

    6.3 Anak mengenal konsep khilafah islamiyah

   6.4 Anak mengenal sejarah kejayaan islam di masa lalu serta mempelajari penyeban keruntuhannya

  6.5 Anak Mengenal sejarah perjuangan islam di masa Rasulullah SAW

  6.6 Anak mengenal sejarah dunia dan faktor penyebab kejayaan dan keruntuhan sebuah bangsa

     OUTPUT:
Anak memiliki semangat berkarya untuk membangun islam

7. Mendidik keturunan yang mengenal potensi dirinya dan mampu memilih peran dalam peradaban

     7.1  Anak mengenal potensi diri dan mengenal cara mengembangkan potensi diri
     OUTPUT:
Anak memiliki budaya belajar dan berkarya sepanjang masa

  7.2 Anak mengenal konsep jihad secara luas
         OUTPUT:
Anak memiliki cita-cita berkontribusi di jalan Allah dan semangat untuk mewujudkannya

  7.3 Anak mengenal sebanyak-banyaknya pilihan peran/profesi untuk berkontribusi di jalan Allah
        7.3.1 Anak mengenal variasi peran di bidang pemikiran/ilmiah
        7.3.2 Anak mengenal variasi peran di bidang kepemimpinan
        7.3.3 Anak mengenal variasi peran di bidang keahlian/profesi
        7.3.4 Anak mengenal variasi peran di bidang finansial
         Output:
          Anak telah menentukan spesifikasi ilmu yang akan dipelajari untuk mengemban peran kekhalifahan yang telah dipilihnya di usia 14 tahun
          Anak telah mulai menjalankan peran kekhalifahan yang ingin diemban di usia 21 tahun

Membangun metal generasi pengislah

1. Memahami apa yang benar dan baik

2. Mengamalkan apa yang benar dan baik

3. Konsisten mengamalkan apa yang benar dan baik meski lingkungan melakukan sebaliknya
4. Membenci apa yang salah dan buruk dan memiliki kecemburuan bila orang lain melakukan apa yang salah dan buruk
 5.  Memiliki keinginan agar orang lain mengamalkan apa yang benar dan baik
 6.   Memiliki keberanian  untuk mengegakkan apa yang benar dan baik

7.    Memiliki kesabaran dalam menegakkan apa yang benar dan baik

8. Bersedia berkorban demi tegaknya kebenaran dan kebaikan

Ikhtiar yang dapat diakukan orang tua sedari dini untuk mencetak generasi produktif dalam menebar kebaikan dan perbaikan dalam peradaban:
1. Membantu anak mendapat informasi yang benar dan penting untuk bekal hidupnya
2. Melatih anak untuk memiliki kemampuan mengambil, menggabungkan, membandingkan, dan menggunakan informasi yang dimiliki untuk diterapkan dalam konteks baru dan keterampilan konseptual
3. Melatih anak untuk memiliki kemampuan dalam beradaptasi dengan lingkungan
4. Melatih anak agar dapat bersikap dan berfikir secara rasional serta bertindak secara efektif dalam menghadapi lingkungannya
5. Melatih anak untuk memiliki kemampuan dalam memecahkan masalah
6. Melatih anak untuk memiliki kemampuan untuk menciptakan hal baru
7. Melatih anak untuk menemukan atau menciptakan masalah baru yang menjadi peletak dasar munculnya pengetahuan baru
8. Memastikan mereka selalu dalam kegiatan produktif dan terhindar dari kesia-siaan
9. Merangsang anak untuk memiliki kepedulian terhadap lingkungan sosial dan kondisi ummat
 10. Bantulah mereka menemukan potensi, minat dan bakat mereka sedari dini, serta siapkan sarana dan prasarana yang menunjang pengembangannya.
11. Merangsang anak untuk memiliki visi misi hidup dan mengarahkan energi mereka untuk meraih visi misi tersebut
12. Menyediakan berbagai sarana untuk mengaktualisasikan diri mereka dalam kegiatan yang bermanfaat
13. Mengajarkan life skill dan melatih kemandirian

Perlukah Gadget Untuk Anak?

Kiki Barkiah 

Percakapan sederhana dengan Shiddiq, mangga diambil ibrohnya....

Shiddiq: "Ummi, kenapa ibu lain suka kasih handphone ke anaknya?"
Ummi: "Memangnya ibunya Shiddiq gimana?"
Shiddiq: "No I'm just asking!"
Ummi: "Iya ummi juga cuma mau tanya pendapat Shiddiq aja tentang ibunya Shiddiq"
Shiddiq: "Jarang kasih"
Ummi: "kira-kira mennurut Shiddiq kenapa ibunya Shiddiq jarag kasih"
Shiddiq: "Karena gak mau anaknya banyak main game"
Ummi: "trus menurut Shiddiq kenapa ibu lain pada sering kasih hp"
Shiddiq: "Karena gak mau liat anaknya nangis atau rewel, biar anteng"
Ummi: "Trus Shiddiq kok gak nangis padahal gak banyak di kasih Hp?"
Shiddiq: "Karena ummi kasih kegiatan lain yang asyik"
Ummi: "Contohnya?"
Shiddiq: "Baca buku"
Ummi: "Nah sekarang Shiddiq sudah tau kan jawabannya, lalu menurut Shiddiq sebaiknya ibu lain seperti apa supaya anak-anaknya gak banyak main hp?"
Shiddiq: "Harus dialihkan ke kegiatan lain kayak dibacakan buku misalnya"


Menanggapi Pertanyaan Seksual Anak (2)

Kiki Barkiah 

Pertanyaan anak-anak tingkat tinggi. Sampai sang ibu menjawab dengan perlahan sambil berfikir dan berdoa "Robbisyrohlii shodrii wayassirlii amrii wahlul uqdatammil lisanii yafqohu qoulii"

Saat itu saya sedang halaqoh agama, membahas sirah nabi Isa tentang peristiwa kehamilan bunda Maryam menjelang kelahirannya.

Shiddiq: "Ummi kenapa perempuan yang hamil tapi gak menikah dia merasa malu dan takut diomongin orang?"
Ummi: "Jadi gini, agar istri bisa hamil, ada proses yang harus dilakukan oleh suami istri. Tapi proses itu hanya boleh dilakukan oleh suami istri setelah sah menikah. Kalo dilakukan sebelum menikah, perempuan bisa hamil tetapi mereka melanggar aturan Allah. Dan itu merupakan perbuatan dosa besar dalam islam. Itulah kenapa orang yang hamil tetapi belum menikah, dia merasa malu karena itu melanggar aturan Allah"
Shafiyah: "How can ummi? How can the girls become pregnant?"
Ummi: "How can nya seperti apa nanti kita bahas pelajarannya kalo teteh sudah besar.  Kalo sekarang teteh belum bisa ngerti walau dijelasin. Yang jelas janin akan terbentuk kalo ada pertemuan antara sel sperma dan sel ovum. Seperti film tentang perkembangan bayi yang pernah kita lihat di museum tubuh waktu itu"
Shiddiq: "Oh.... i know maybe they have to close each other"
(Gubrak!!! Sepertinya Shiddiq mengkolerasikan peristiwa perkawinan kelinci peliharaan kami.)
Shafiyah: "Oh itu ya pacar-pacaran itu?"
(Gubrak!!! Mereka bisa menyimpulkan sendiri)
Ummi: "Ya makanya di dalam islam tidak boleh berpacaran. Tidak boleh berdekatan dan bersentuhan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahrom. Di Al-quran disebutkan bahwa kita dilarang mendekati perbuatan zina"
Shiddiq: "Jadi Maryam itu bisa hamil walaupun gak ada suaminya? Jadi gimana apa sel spermanya bisa langsung terbang ke sel ovum?"
Ummi: "Abang atas ijin Allah itu bisa. Itu mukjizat abang! Allah meniupkan ruh janin dalam perut bunda maryam. Hanya maryam satu-satunya yang mengalami hal itu"
Shiddiq: "Ummi, jdi yang kita sekarang boleh sentuh, kita gak boleh nikahi . Tapi yang kita gak boleh sentuh sekaranb nanti kita boleh nikahin, gitu kan ummi?"
(Masya Allah.....Kesimpulan dasyat)
Ummi: "Ya dalam islam itu disebut mahram artinya orang yang haram untuk dinikahi. Tetapi menyentuh mahrom juga ada aturannya. Hanya boleh menyentuh secara wajar. Gak boleh menyentuh aurat utama dan bagian-bagia  yang pernah ummi ajarkan dulu"
Shiddiq: "Ummi, tapi kenapa bi xxxx dan om xxxx pacaran? Kenapa harus tunangan dulu, kenapa gak cepet nikah aja? They already touched each other padahal belum nikah"
(GUBRAK!!!! Anak-anak adalah pengamat yang kritis)
Ummi: "Ya ummi kan sudah sampaikan samamereka kalo di dalam islam itu tidak boleh, tapi mereka memilih jalan itu. ya pokoknya kalian tau bahwa di islam gak boleh pacaran. Jadi kalian gak boleh ikutin"
Shiddiq: "Kapan sih mereka nikah? Nanti malah keburu hamil lho!!"
(Gubrak!!! Saat itu saya berharap percakapan ini disudahi saja, saya khawatir salah bicara)
Ummi: "Iya mudah-mudahan tidak sampai seperti itu. Insya Allah sebentar lagi mereka menikah"
Shiddiq: "But how about if om yyyy do something really bad dan mereka gak jadi menikah, padahal mereka udah close each other?"
(Ya Allah rasanya gak percaya otak anakku yang berumur 7 tahun mampu menyimpulkan seperti itu)
Ummi: "Ya udah jadi pelajaran buat kita aja, kalo kita baru boleh berdekatan dengan lawan jenis yang bukan mahrom kalo kita sudah menikah. Udah yuuk kita terusin sirahnya. Ceritanya gak selesai-selesai kalo Shiddiq nanyaaaa terus"
Shafiyah: "Iya nih Shiddiq nanya terus, ceritanya gak selesai-selesai"

Lalu percakapan pun teralihkan dengan lanjutan cerita sirah nabi Isa. Saya pun hampir berkeringat dingin dengan percakapan ini. Ya Allah ampuni hamba bila ada yang salah. Namun bagi saya saat itu berkata kebenaran lebih baik daripada ditutupi lalu kemudian mereka bertanya pada pihak lain yang belum tentu akan menjawab dalam pandangan islam.

Kalau Muslim, Ya Jangan Jadi Orang Arab

Share...

Saya, Antara Islam, Indonesia, dan Arab

Saya muslim, warga negara Indonesia asli, ras melayu mongoloid, bukan orang Arab atau keturunan Arab, tak perlu menjadi orang Arab, dan tak kan pernah menjadi orang beretnis Arab. 

Tetapi karena muslim, setidaknya 5 kali dalam sehari saya merapalkan bacaan-bacaan berbahasa Arab dalam gerakan yang teratur. Dalam bahasa Arab, disebut sholat. 

Saya menghafal bacaan-bacaan itu sekaligus mempelajari artinya agar saat mengucapkan sebuah kalimat, saya paham maknanya. Dan saya tidak akan pernah mengganti bacaan sholat itu dengan bahasa Indonesia. 

Saya juga sedang menghafalkan kitab tebal berbahasa Arab serta memahami makna dan tafsirnya. Kitab itu disebut Al-Quran. Tak ada buku dalam bahasa Indonesia setebal Al-Quran yang saya hafal. Saya sediakan waktu setiap hari untuk membaca kitab itu. 

Bila berkesempatan, pada waktu-waktu tertentu saya akan mengeraskan suara menghimbau orang banyak dalam bahasa Arab. Atau yang disebut dengan adzan. Bertujuan mengajak orang sholat. Saya tak kan mengganti seruan itu dengan bahasa Indonesia.

Memulai segala aktifitas, saya mengawalinya dengan kalimat berbahasa Arab. Kemudian saya rapalkan juga kalimat lain sebagai doa -  juga berbahasa Arab. Hedak makan, tidur, masuk kamar mandi, naik kendaraan, saya lafalkan bacaan berbahasa Arab. Menyudahi segala aktifitas pun saya ucapkan juga kalimat berbahasa Arab.

Bila menyapa rekan sesama muslim, saya ucapkan salam berbahasa Arab yang mengandung doa.

Ada satu sosok yang sangat saya cintai, melebihi cinta kepada diri sendiri. Sosok itu dari etnis Arab. Ia bernama Muhammad saw. Saya meneladani prilakunya, mencontoh bagaimana ia bergaul dengan manusia, bahkan hingga bagaimana ia masuk ke dalam jamban.

Termasuk cara berpakaian. Sebagaimana pecinta musik Jepang, Korea, musisi Barat dll mencontoh cara berpakaian idola-idola mereka dan budayanya. Atau sebagaimana pecinta sepakbola gandrung dengan jersey klub bola kesayangannya. Atau pecinta anime yang punya istilah cosplay. Apa salahnya saya mengenakan pakaian yang mirip dengan Muhammad saw pernah pakai? Tentu saja itu pakaian khas orang Arab. 

Tetapi dengan pakaian itu, saya tak merasa paling baik lalu merendahkan orang lain. Sekedar ekspresi cinta yang diniatkan ibadah, sesekali saya kenakan pakaian model itu. 

Tak ada manusia lain walaupun dari bangsa sendiri yang begitu saya cintai dan teladani lebih dari orang Arab itu, beserta keluarganya. Allahumma sholli 'ala sayyidina Muhammad wa 'ala ali sayyidina Muhammad.

Dan saya pun mencintai sahabat-sahabatnya yang juga beretnis Arab. Saya mempelajari bagaimana sejarah kehidupan mereka dan meneladani hal yang baik yang terjadi di zaman itu.

Ada orang-orang besar, atau pahlawan, dari bangsa Indonesia yang saya kagumi. Tapi dalam kadar kekaguman yang tak melampaui orang-orang Arab sahabat Muhammad saw.

Saya pun mencintai garis keturunan Muhammad saw, yang notabene adalah orang-orang Arab. 

Saya orang Indonesia yang terpukau dengan keindahan alam Nusantara yang terbentang dari Sabang hingga Marauke. Tetapi kepuasan tertinggi saya bila telah sampai mengunjungi jazirah Arab, khususnya di kota Mekkah untuk melaksanakan ibadah Haji. 

Saya orang Indonesia. Beragama Islam. Saya dambakan ketika di akhir hayat, kalimat terakhir yang saya ucapkan dalam bahasa Arab. Yaitu dua kalimat syahadat. Semoga Allah permudah. Amin.

Saya orang Indonesia. Muslim. Berinteraksi begitu banyak dengan hal berbau Arab. Meski tak perlu menjadi orang Arab. Interaksi tersebab konsekuensi keimanan. 

Zico Alviandri

Menjawab Pertanyaan Seksual Anak

Kiki Barkiah 

Lagi-lagi ia bertanya tentang pertanyaan yang tak mudah dijawab.

Shiddiq: "Ummi apa benar Rasulullah pernah mandi dalam satu bejana dengan Aisyah?"

(Haaaaa!!!) Saya kaget dalam hati. Saya rasa materi  pelajaran fiqh dalam homeschooling kami belum pernah sejauh itu. Namun seperti biasa dengan muka tenang tanpa menunjukkan panik saya merespon.

Ummi: "Dari mana abang dapat informasi tersebut?"

Shiddiq: "Aa told me!"

Dalam hati saya bertanya bagaimana mereka bisa sampai pada pembicaraan seserius itu.

Ummi: "Memangnya Shiddiq sedang dalam pembicaraan apa sama aa sampai ke pembahasan itu?"

Shiddiq: "I'm just asking something to Aa and Aa told me about that"

Ummi: "Ya itu salah satu hadist yang di riwayatkan Aisyah"

Saya berusaha menyudahi pembicaran dengan mengalihkan pembicaraan pada bahasan fiqh. Saya sangat berharap ia tidak melanjutkan pertanyaannya. Namun bukan Shiddiq jika tidak mengajukan pertanyaan lanjutan hasil analisis otaknya terhadap satu informasi ke informasi lain.

Shidiq: "Emangnya boleh, mi?"
Ummi: "Aisyah meriwayatkan hadist tersebut untuk diketahui para sahabat. Sesuatu yang di lakukan oleh Rasulullah juga berarti umat muslim diperbolehkan melakukannya. Kecuali pada beberapa hal yang secara khusus hanya boleh dilakukan oleh Rasulullah"

Shiddiq: "Kenapa ummi sama bapak gak pernah mandi bersama dalam satu bejana?"

(Gubrak!!! saya menahan tawa dan tetap berusaha tenang menjawab)

Ummi: "Kita kan punya kamar mandi dua bang, jadi kalo satu kamar mandi sedang digunakan bapak, ummi kan bisa menggunakan kamar mandi lain"

Shiddiq: "Kalo darurat hanya kamar mandi satu dan kebelet, berarti harus ditutup dengan tirai kain ya kayak di kamar mandi Amerika"

Shiddiq menyimpulkan, tapi saat itu saya tidak merespon komentarnya.

Shiddiq: "Jadi waktu itu Rasulullah tutupin pakai handuk atau keliatan bagian aurat p*n*snya?

Saya masih berusaha mempertahankan mimik yang tenang dan berusaha merangkai kata.

Ummi: "Di hadist itu tidak secara jelas menerangkan keadaan pakaian Rasulullah, jadi ummi tidak tau apa yang Rasulullah pakai saat itu."

Shiddiq: "Tapi boleh gak Aisyah lihat aurat Rasulullah?"

Karena pertanyaan sudah sangat spesifik, saya harus menceritakan dari sudut pandangan fiqh.

Ummi: "Secara syariat hal itu diperbolehkan"

Tiba-tiba ada perubahan mimik dari wajah Shafiyah dan Shiddiq yang menyatakan kepuasan. Rupanya mereka sedang penasaran dengan batasan aurat bagi suami dan istri.

Shafiyah: "Jadi boleh ya mi suami melihat aurat istri?"

Ummi: "Ya secara syariat itu halal, tetapi harus melalui ikatan pernikahan"

Shiddiq: "Memangnya bejana itu sebesar apa?"

Ummi: "Ummi tidak tau bejana Rasulullah sebedar apa tapi dari hadist tersebut Rasulullah  dan Aisyah memasukkan tangan bersama-sama kedalam bejana untuk mengambil air. Mungkin sebesar ember"

Shiddiq: "Atau berenang bareng dalam satu bak besar?"

Ummi: "Ummi tidak tau bang, sepertinya membutuhkan tempat yang luas untuk bisa seperti itu. Rasanya gak mungkin, karena rumah mereka kan gak luas. Allahualam"

Saya sudah ingin segera menghentikan pembicaraan ini, tapi lagi-lagi saya tersentak dengan pertanyaan Shiddiq.

Shiddiq: "Lalu kalo seorang suami punya 4 istri berarti boleh mandi bersama semuanya?"

Gubrak!!!! Saya menarik nafas dan mencoba untuk tidak memunculkan mimik wajah yang memicu ia semakin membayangkan hal-hal yang aneh.

Ummi: "Didalam hadist itu Rasulullah hanya bersama Aisyah, tidak bersama dengan Zainab atau istri lain. Karena dalam fiqh, ada batasan seorang muslimah dalam melihat aurat muslimah lainnya. Tidak boleh mereka melihat aurat muslimah lain seluruh tubuh, kecuali ada keperluan darurat semisal dokter yang mau memeriksa atau operasi"

Shiddiq: "Oh jadi suami boleh lihat aurat istri tapi antara istri gak boleh melihat aurat yang lainya. Jadi kalo punya istri 4 gak boleh sekamar bersama dong?"

Gubrak!!! Ya Allah bagaimana aku menyudahi pembicaraan ini, batinku.

Ummi: "Iya bang tidak boleh, supaya tidak saling melihat aurat satu sama lain"

Shiddiq: "Kalo dipasang tirai bagaimana?"

Ummi: "Sebaiknya terpisah, bahkan sebaiknya terpisah rumahnya. Sudah ya bang nanti kita bahas tema tentang suami istri di bahasan fiqh kedepan. Sekarang abang belum sampai materi itu"

Saya pun memanggil Aa Ali dan bertanya

Ummi: "Aa, bagaimana Aa dengan Shiddiq bisa sampai pada pembicaraan hadist tentang Rasulullah mandi dalam satu bejana dengan aisyah? Apa yang Shiddiq tanyakan saat itu?"

Aa terlihat agak sungkan menjawab, mungkin ia khawatir saya akan menegurnya.

Aa Ali: "Iya Shiddiq bertanya apakah diperbolehkan suami istri melihat.... mmmm.... ya...begitu.... lalu Aa jawab dengan hadist itu"

Ummi: "Oke nak kamu benar, kamu sudah menjawab dengan hadist yang tepat"

Saya bersyukur Shiddiq bertanya pada kakaknya, dan kakaknya menjawab dengan referensi hadist yang tepat. Andai ia bertanya pada teman belum tentu mereka akan menjawab dari sisi pandangan fiqh. Tapi saya tiba-tiba teringat bahwa setahun lalu ia pernah menanyakan hal yang serupa kepada saya tentang sejauh mana suami dapat melihat aurat istri. Waktu itu saya menjawab "Insya Allah nanti akan ada materi tersendiri tentang hukum-hukum yang mengatur suami istri, tapi tidak sekarang dibahasnya" Rupanya ia tidak puas dengan jawaban itu, sehingga secara spesifik ia bertanya pada kakaknya. Beruntung referensi Ali cukup lumayan untuk menjawab dari pandangan syariat. Pembicaraan belum selesai, Shiddiq masih bertanya dengan pertanyaan yang lebih kompleks. Tapi saya tidak ingin ia semakin membayangkan yang macam-macam.

Ummi: "Shiddiq begini aja, insya Allah nanti akan ada bahasan khusus tentang fiqh nikah, tapi tidak sekarang. Materi fiqh Shiddiq masih seputar toharoh. Sekarang sudah dulu ya tanyanya. Nanti insya Allah kita bahas kalo abang Shiddiwlq sudah agak besar dan siap membahas fiqh nikah. Materi Aa Ali saja belum sampai pada materi itu"

Aa Ali: "Iya nih Shiddiq tanya-tanya terus, Aa Ali aja belum belajar materi itu"

Segera saya alihkan pembicaraan kami sebelum lutut ini semakin lemas menjawab pertanyaannya.

Kemudian saya mengadukan perkara ini pada suami, yang dari ruang kerjanya sebenarnya ia mendengar pembicaraan kami.

Ummi: "Ummi bingung pah, rasa ingin tahunya sangat besar. Tapi kalo kita tidak menjawabnya dengan pandangan fiqh, ia akan bertanya sama orang lain yang belum tentu akan dijawab dari pandangan islam"

Bapak: "Iya betul, bisa bahaya. Tapi kita juga perlu hati-hati agar ia tidak membayangkan yang semakin macam-macam. Sepertinya abang Shiddiq ini kalo sudah besar harus diajak banyak-banyak shaum"

Hahahahaha saya pun tertawa mendengarnya.

Ummi: "Ya kita harus serius mematangkan dirinya supaya siap menikah di usia muda"

Hati ini hanya bisa berdoa semoga Allah membimbing lisan yang bodoh dan kurang ilmu ini untuk menjawab pertanyaan anak-anak dengan kebenaran yang di selimuti dengan kebijaksanaan dalam merangkai kata.