Thursday, July 30, 2015

Pesan dan Makanlah Secukupnya

Oleh Cun Liang

“PESAN HANYA YANG SANGGUP KALIAN MAKAN !”

Jerman adalah sebuah negara industri terkemuka. Di negara seperti ini, tentu banyak yang mengira warganya hidup foya2.

Ketika saya tiba di Hamburg, saya bersama rekan2 masuk ke restoran. Kami lihat banyak meja kosong. Ada satu meja dimana sepasang anak muda sedang makan. Hanya ada 2 piring makanan & 2 kaleng minuman di meja mereka.

Saya bertanya dalam hati, apa hidangan yang begtu simple dapat disebut romantis & apa si gadis tidak akan meninggalkan si pemuda kikir tersebut?

Kemudian ada lagi beberapa wanita tua di meja lainnya. Ketika makanan dihidangkan, pelayan membagi makanan tersebut & mereka menghabiskan tiap butir makanan yang ada di piring mereka.

Karena kami lapar, rekan kami pesan lebih banyak makanan. Saat selesai, tersisa kira2 sepertiganya yang tidak dapat kami habiskan di meja. Begitu kami hendak meninggalkan restoran, wanita tua yang dari meja sebelah berbicara pada kami dalam bahasa Inggris, kami dan teman2 paham bahwa mereka tidak senang kami memubazirkan makanan.

Lalu temanku berkata kepada wanita tua itu : "Kami yang bayar kok, bukan urusan kalian berapa banyak makanan kami yang tersisa",

Wanita2 itu meradang. Salah satunya segera mengeluarkan HP & menghubungi seseorang. Sesaat kemudian seorang lelaki berseragam Sekuritas Sosial pun tiba. Setelah mendengar sumber masalah pertengkaran, Petugas Sekuritas Sosial itu menyatakan kami bersalah, lalu menerbitkan surat denda Euro 50 (Rp. 750.000) pada kami, sambil menyerahkan surat denda tersebut, Petugas itu berkata dengan suara yang tegas, 

:“UANG MEMANG MILIK KALIAN TAPI SUMBER DAYA ALAM INI MILIK BERSAMA. ADA BANYAK ORANG LAIN DI DUNIA YANG KEKURANGAN. KALIAN TIDAK PUNYA HAK UNTUK MENGHAMBURKAN SUMBER DAYA ALAM INI, PESAN HANYA YANG SANGGUP KALIAN MAKAN !”

Kami hanya bisa diam tertunduk malu.

PENGALAMAN INI MENGAJARKAN KAMI AGAR MENGUBAH KEBIASAAN BURUK KITA.

Pola pikir dari masyarakat di negara makmur tersebut seharusnya membuat kita semua malu, KITA SUNGGUH HARUS MERENUNGKAN HAL INI. Kita ini dari negara yang tidak makmur2 amat. Untuk gengsi, kita sering pesan banyak & sering berlebihan saat menjamu tamu kita.

“MONEY IS YOURS BUT RESOURCES BELONG TO THE SOCIETY.”

Semoga terinspirasi.

Monday, July 27, 2015

Ungkapan Jujur Seorang Anak

Tahun 2005 yang lalu saya harus mondar-mandir ke SD Budi Mulia Bogor. Anak sulung kami yang bernama Dika, duduk di kelas 4 di SD itu. Waktu itu saya memang harus berurusan dengan wali kelas dan kepala sekolah.

Pasalnya menurut observasi wali kelas dan kepala sekolah, Dika yang duduk di kelas unggulan, tempat penggemblengan anak-anak berprestasi itu, waktu itu justru tercatat sebagai anak yang bermasalah. Saat saya tanyakan apa masalah Dika, guru dan kepala sekolah justru menanyakan apa yang terjadi di rumah sehingga anak tersebut selalu murung dan menghabiskan sebagian besar waktu belajar di kelas hanya untuk melamun. Prestasinya kian lama kian merosot.

Dengan lemah lembut saya tanyakan kepada Dika: "Apa yang kamu inginkan ?" Dika hanya menggeleng.

"Kamu ingin ibu bersikap seperti apa ?" tanya saya. "Biasa-biasa saja" jawab Dika singkat.

Beberapa kali saya berdiskusi dengan wali kelas dan kepala sekolah untuk mencari pemecahannya, namun sudah sekian lama tak ada kemajuan. Akhirnya kamipun sepakat untuk meminta bantuan seorang psikolog.

Suatu pagi, atas seijin kepala sekolah, Dika meninggalkan sekolah untuk menjalani test IQ. Tanpa persiapan apapun, Dika menyelesaikan soal demi soal dalam hitungan menit. Beberapa saat kemudian, Psikolog yang tampil bersahaja namun penuh keramahan itu segera memberitahukan hasil testnya.

Angka kecerdasan rata-rata anak saya mencapai 147 (Sangat Cerdas) dimana skor untuk aspek-aspek kemampuan pemahaman ruang, abstraksi, bahasa, ilmu pasti, penalaran, ketelitian dan kecepatan berkisar pada angka 140 - 160. Namun ada satu kejanggalan, yaitu skor untuk kemampuan verbalnya tidak lebih dari 115 (Rata-Rata Cerdas).

Perbedaan yang mencolok pada 2 tingkat kecerdasan yang berbeda itulah yang menurut psikolog, perlu dilakukan pendalaman lebih lanjut. Oleh sebab itu psikolog itu dengan santun menyarankan saya untuk mengantar Dika kembali ke tempat itu seminggu lagi. Menurutnya Dika perlu menjalani test kepribadian.

Suatu sore, saya menyempatkan diri mengantar Dika kembali mengikuti serangkaian test kepribadian. Melalui interview dan test tertulis yang dilakukan, setidaknya Psikolog itu telah menarik benang merah yang menurutnya menjadi salah satu atau beberapa faktor penghambat kemampuan verbal Dika. Setidaknya saya bisa membaca jeritan hati kecil Dika. Jawaban yang jujur dari hati Dika yang paling dalam itu membuat saya berkaca diri, melihat wajah seorang ibu yang masih jauh dari ideal.

Ketika Psikolog itu menuliskan pertanyaan "Aku ingin ibuku :...."

Dika pun menjawab : "membiarkan aku bermain sesuka hatiku, sebentar saja."

Dengan beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa selama ini saya kurang memberi kesempatan kepada Dika untuk bermain bebas. Waktu itu saya berpikir bahwa banyak ragam permainan-permainan edukatif sehingga saya merasa perlu menjadwalkan kapan waktunya menggambar, kapan waktunya bermain puzzle, kapan waktunya bermain basket, kapan waktunya membaca buku cerita, kapan waktunya main game di komputer dan sebagainya. Waktu itu saya berpikir bahwa demi kebaikan dan demi masa depannya, Dika perlu menikmati permainan-permainan secara merata di sela-sela waktu luangnya yang memang tinggal sedikit karena sebagian besar telah dihabiskan untuk sekolah dan mengikuti berbagai kursus di luar sekolah. Saya selalu pusing memikirkan jadwal kegiatan Dika yang begitu rumit. Tetapi ternyata permintaan Dika hanya sederhana : diberi kebebasan bermain sesuka hatinya, menikmati masa kanak-kanaknya.

Ketika Psikolog menyodorkan kertas bertuliskan "Aku ingin Ayahku ..."

Dika pun menjawab dengan kalimat yang berantakan namun kira-kira artinya "Aku ingin ayahku melakukan apa saja seperti dia menuntutku melakukan sesuatu".

Melalui beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa Dika tidak mau diajari atau disuruh, apalagi diperintah untuk melakukan ini dan itu. Ia hanya ingin melihat ayahnya melakukan apa saja setiap hari, seperti apa yang diperintahkan kepada Dika. Dika ingin ayahnya bangun pagi-pagi kemudian membereskan tempat tidurnya sendiri, makan dan minum tanpa harus dilayani orang lain, menonton TV secukupnya, merapikan sendiri koran yang habis dibacanya dan tidur tepat waktu. Sederhana memang, tetapi hal-hal seperti itu justru sulit dilakukan oleh kebanyakan orang tua.

Ketika Psikolog mengajukan pertanyaan "Aku ingin ibuku tidak ..."

Maka Dika menjawab "Menganggapku seperti dirinya."

Dalam banyak hal saya merasa bahwa pengalaman hidup saya yang suka bekerja keras, disiplin, hemat, gigih untuk mencapai sesuatu yang saya inginkan itu merupakan sikap yang paling baik dan bijaksana. Hampir-hampir saya ingin menjadikan Dika persis seperti diri saya. Saya dan banyak orang tua lainnya seringkali ingin menjadikan anak sebagai foto copy diri kita atau bahkan beranggapan bahwa anak adalah orang dewasa dalam bentuk sachet kecil.

Ketika Psikolog memberikan pertanyaan "Aku ingin ayahku tidak : .."

Dika pun menjawab "Tidak menyalahkan aku di depan orang lain. Tidak mengatakan bahwa kesalahan-kesalahan kecil yang aku buat adalah dosa"

Tanpa disadari, orang tua sering menuntut anak untuk selalu bersikap dan bertindak benar, hingga hampir-hampir tak memberi tempat kepadanya untuk berbuat kesalahan. Bila orang tua menganggap bahwa setiap kesalahan adalah dosa yang harus diganjar dengan hukuman, maka anakpun akan memilih untuk berbohong dan tidak mau mengakui kesalahan yang telah dibuatnya dengan jujur. Kesulitan baru akan muncul karena orang tua tidak tahu kesalahan apa yang telah dibuat anak, sehingga tidak tahu tindakan apa yang harus kami lakukan untuk mencegah atau menghentikannya.

Saya menjadi sadar bahwa ada kalanya anak-anak perlu diberi kesempatan untuk berbuat salah, kemudian iapun bisa belajar dari kesalahannya. Konsekuensi dari sikap dan tindakannya yang salah adakalanya bisa menjadi pelajaran berharga supaya di waktu-waktu mendatang tidak membuat kesalahan yang serupa.

Ketika Psikolog itu menuliskan "Aku ingin ibuku berbicara tentang ....."

Dika pun menjawab "Berbicara tentang hal-hal yang penting saja".

Saya cukup kaget karena waktu itu saya justru menggunakan kesempatan yang sangat sempit, sekembalinya dari kantor untuk membahas hal-hal yang menurut saya penting, seperti menanyakan pelajaran dan PR yang diberikan gurunya. Namun ternyata hal-hal yang menurut saya penting, bukanlah sesuatu yang penting untuk anak saya. Dengan jawaban Dika yang polos dan jujur itu saya diingatkan bahwa kecerdasan tidak lebih penting dari pada hikmat dan pengenalan akan Tuhan. Pengajaran tentang kasih tidak kalah pentingnya dengan ilmu pengetahuan.

Atas pertanyaan "Aku ingin ayahku berbicara tentang .....",

Dika pun menuliskan "Aku ingin ayahku berbicara tentang kesalahan-kesalahannya. Aku ingin ayahku tidak selalu merasa benar, paling hebat dan tidak pernah berbuat salah. Aku ingin ayahku mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepadaku".

Memang dalam banyak hal, orang tua berbuat benar tetapi sebagai manusia, orang tua tak luput dari kesalahan. Keinginan Dika sebenarnya sederhana, yaitu ingin orang tuanya sportif, mau mengakui kesalahnya dan kalau perlu meminta maaf atas kesalahannya, seperti apa yang diajarkan orang tua kepadanya.

Ketika Psikolog menyodorkan tulisan "Aku ingin ibuku setiap hari ....."

Dika berpikir sejenak, kemudian mencoretkan penanya dengan lancar "Aku ingin ibuku mencium dan memelukku erat-erat seperti ia mencium dan memeluk adikku".

Memang adakalanya saya berpikir bahwa Dika yang hampir setinggi saya sudah tidak pantas lagi dipeluk-peluk, apalagi dicium-cium. Ternyata saya salah, pelukan hangat dan ciuman sayang seorang ibu tetap dibutuhkan supaya hari-harinya terasa lebih indah. Waktu itu saya tidak menyadari bahwa perlakukan orang tua yang tidak sama kepada anak-anaknya seringkali oleh anak-anak diterjemahkan sebagai tindakan yang tidak adil atau pilih kasih.

Secarik kertas yang berisi pertanyaan "Aku ingin ayahku setiap hari...."

Dika menuliskan sebuah kata tepat di atas titik-titik dengan satu kata, "tersenyum".

Sederhana memang, tetapi seringkali seorang ayah merasa perlu menahan senyumannya demi mempertahankan wibawanya. Padahal kenyataannya senyuman tulus seorang ayah sedikitpun tidak akan melunturkan wibawanya, tetapi justru bisa menambah simpati dan energi bagi anak-anak dalam melakukan segala sesuatu seperti yang ia lihat dari ayahnya setiap hari.

Ketika Psikolog memberikan kertas yang bertuliskan "Aku ingin ibuku memanggilku. ..."

Dika pun menuliskan "Aku ingin ibuku memanggilku dengan nama yang bagus"

Saya tersentak sekali! Memang sebelum ia lahir kami telah memilih nama yang paling bagus dan penuh arti, yaitu Judika Ekaristi Kurniawan. Namun sayang, tanpa sadar, saya selalu memanggilnya dengan sebutan Nang. Nang dalam Bahasa Jawa diambil dari kata "Lanang" yang berarti laki-laki.

Ketika Psikolog menyodorkan tulisan yang berbunyi "Aku ingin ayahku memanggilku .."

Dika hanya menuliskan 2 kata saja, yaitu "Nama Asli".

Selama ini suami saya memang memanggil Dika dengan sebutan "Paijo" karena sehari-hari Dika berbicara dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Sunda dengan logat Jawa medok. "Persis Paijo, tukang sayur keliling" kata suami saya.

Atas jawaban-jawaban Dika yang polos dan jujur itu, saya menjadi malu karena selama ini saya bekerja di sebuah lembaga yang membela dan memperjuangkan hak-hak anak. Kepada banyak orang saya kampanyekan pentingnya penghormatan hak-hak anak sesuai dengan Konvensi Hak-Hak Anak Sedunia. Kepada khalayak ramai saya bagikan poster bertuliskan "To Respect Child Rights is an Obligation, not a Choice" sebuah seruan yang mengingatkan bahwa "Menghormati Hak Anak adalah Kewajiban, bukan Pilihan".

Tanpa saya sadari, saya telah melanggar hak anak saya karena telah memanggilnya dengan panggilan yang tidak hormat dan bermartabat. Dalam diamnya anak, dalam senyum anak yang polos dan dalam tingkah polah anak yang membuat orang tua kadang-kadang bangga dan juga kadang-kadang jengkel, ternyata ada banyak Pesan Yang Tak Terucapkan.

Seandainya semua ayah mengasihi anak-anaknya, maka tidak ada satupun anak yang kecewa atau marah kepada ayahnya. Anak-anak memang harus diajarkan untuk menghormati ayah dan ibunya, tetapi para orang tua tidak boleh membangkitkan amarah di dalam hati anak-anaknya. Para orang tua harus mendidik anaknya di dalam ajaran dan nasehat yang baik.

~ Lesminingtyas

Sunday, July 19, 2015

Ucapan Lebaran 2

Dari web : www.firanda.com

Pertanyaan

: Ustadz apa hukum mengucapkan "Minal 'Aaidin wal Faaizin" tatkala hari raya?

Jawaban : Tahni'ah (ucapan selamat) untuk hari raya idul fitri asalnya merupakan perkara adat istiadat, maka boleh berekspresi dan berinovasi dalam menghaturkan ucapan tersebut selama tidak mengandung makna yang buruk. Dan lebih disukai jika dengan menggunakan lafal-lafal yang mengandung do'a.

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-'Utsaimin rahimahullah pernah ditanya :

ما حكم التهنئة بالعيد ؟ وهل لها صيغة معينة ؟

"Apakah hukum mengucapkan selamat hari raya?, apakah ada lafal khusus?"

Beliau menjawab :

التهنئة بالعيد جائزة ، وليس لها تهنئة مخصوصة ، بل ما اعتاده، الناس فهو جائز ما لم يكن إثماً

"Mengucapkan selamat hari raya adalah boleh, dan tidak ada ucapan dengan lafal tertentu, bahkan ucapan yang merupakan kebiasaan/tradisi masyarakat adalah boleh selama tidak mengandung (makna) dosa" (Majmuu' Fataawaa Syaikh Al-'Utsaimin 16/129)

Beliau juga berkata :

"التهنئة بالعيد قد وقعت من بعض الصحابة رضي الله عنهم ، وعلى فرض أنها لم تقع فإنها الآن من الأمور العادية التي اعتادها الناس ، يهنىء بعضهم بعضاً ببلوغ العيد واستكمال الصوم والقيام"

"Mengucapkan selamat hari raya dilakukan oleh sebagian sahabat radhiyallahu 'anhum. Seandainyapun tidak dilakukan oleh para sahabat maka hal itu sekarang sudah merupakan perkara tradisi masyarakat, mereka saling memberi ucapan selamat dengan tibanya hari raya dan sempurnanya puasa dan sholat malam" (Majmuu' Fataawaa Syaikh Al-'Utsaimin 16/128)

Beliau juga ditanya :

ما حكم المصافحة ، والمعانقة والتهنئة بعد صلاة العيد ؟

"Apa hukum berjabat tangan dan berpelukan dan mengucapkan selamat setelah sholat 'ied?"

Beliau menjawab :

"هذه الأشياء لا بأس بها؛ لأن الناس لا يتخذونها على سبيل التعبد والتقرب إلى الله عز وجل، وإنما يتخذونها على سبيل العادة، والإكرام والاحترام، وما دامت عادة لم يرد الشرع بالنهي عنها فإن الأصل فيها الإباحة"

"Seluruh perkara ini tidaklah mengapa, karena masyarakat melakukannya bukan sebagai ibadah dan taqorrub kepada Allah Azza wa Jalla, akan tetapi mereka melakukannya sebagai tradisi/adat, sebagai bentuk memuliakan dan penghormatan. Dan selama hal ini merupakan tradisi dan syari'at tidak melarangnya maka hukum asal dalam perkara adat/tradisi adalah boleh" (Majmuu' Fatawa Ibnu 'Utsaimin 16/209)

Kesimpulan :

Pertama : Pengucapan selamat idul fitri merupakan perkara adat dan tradisi, maka apa yang biasa diucapkan oleh masyarakat boleh untuk diucapkan selama tidak mengandung makna yang buruk atau dosa. Dan disukai jika ucapan tersebut mengandung doa yang baik, sebagaimana telah diriwayatkan dengan sanad yang hasan bahwa para sahabat jika bertemu tatkala hari raya maka mereka saling berkata : Taqobballallahu minnaa wa minkum (Semoga Allah menerima ibadah kami dan kalian)

Bahkan secara umum seorang boleh mengucapkan selamat terhadap seseorang atas kenikmatan atau anugrah yang ia dapatkan. Seperti ada seseorang yang lulus ujian, atau naik pangkat, atau menikah, dll, maka dibolehkan kita mengucapkan selamat kepadanya atas anugrah yang ia rasakan. Dalil akan hal ini adalah kisah Ka'ab bin Malik radhiallah 'anhu -sebagaimana dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim- tatkala Allah menerima taubatnya maka  para sahabat berdatangan memberi ucapan selamat kepadanya, bahkan Tolhah beridiri berlari-lari kecil menuju Ka'ab untuk memberi selamat (Lihat Shahih Al-Bukhari no 4418 dan Muslim 2769)

Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata tentang kisah Ka'ab tersebut :

وفيه دليل على استحباب تهنئة مَن تجدَّدت له نعمة دينية، والقيام إليه إذا أقبل، ومصافحته، فهذه سُنَّة مستحَبة، وهو جائز لمن تجددت له نِعمةٌ دنيوية

"Pada kisah ini adalah dalil disunnahkannya memberi ucapan selamat atas orang yang mendapatkan kenikmatan yang bersifat agama/ukhrawi (seperti diterimanya taubat Ka'ab oleh Allah-pen) dan berdiri menuju orang tersebut jika ia datang serta berjabat tangan dengannya. Ini merupakan sunnah yang dianjurkan.

Dan hal ini (ucapan selamat dan berjabat tangan-pen) boleh dilakukan terhadap orang yang mendapatkan nikmat duniawi" (Zaadul Ma'aad 3/585)

 

Kedua  : Boleh mengucapkan lafal-lafal ucapan yang merupakan kebiasan masyarakat setempat selama tidak mengandung makna yang buruk atau dosa. Diantara lafal-lafal ucapan selamat tersebut :

-  Selamat Hari Lebaran/Idul Fitri tahun 2014 atau 1435 H

- Minal 'Aaidiin wal Faaiziin, yang artinya ; "Selamat berhari 'ied dan semoga termasuk orang-orang yang telah menang (mendapatkan pahala)"

Ucapan ini pada dasarnya adalah do'a, dan juga sering diucapkan oleh orang-orang Arab, sebagaimana saya sering mendengarnya langsung. Karenanya tidak perlu kita mempermasalahkan ucapan seperti ini dengan berandai-andai atau memaknainya dengan makna yang buruk. Karenanya tidak perlu kita mempersulit masyarakat dengan melarang mereka mengucapkan ucapan ini.

- Mohon Maaf Lahir Batin

Ini adalah ucapan yang sering terucapkan tatkala hari raya. Tentunya maksud dari ucapan tersebut adalah maafkanlah aku jika aku punya salah, maafkanlah aku secara total, karena aku meminta maaf kepadamu secara total keseluruhan lahir dan batin.

Meminta maaf merupakan perkara yang sangat terpuji jika seseorang memang benar-benar melakukan kesalahan, terlebih lagi jika ia segera meminta maaf dan tidak menunda-nundanya. Akan tetapi ucapan ini sudah menjadi tradisi masyarakat kita dan diucapkan kepada siapa saja yang ia temui apakah ia bersalah kepada orang tersebut atau tidak. Bahkan diucapkan kepada orang yang baru saja ia temui dan belum ia kenal sebelumnya, yang bisa dipastikan bahwa ia tidak memiliki kesalahan terhadap orang tersebut. Sehingga ucapan ini sudah menjadi paket bergandengan dengan "Minal 'Aidin wal Faizin".

Pada asalnya seseorang boleh-boleh saja meminta maaf tatkala hari raya, atau menjadikan hari raya adalah momen yang tepat untuk bersilaturahmi/berziaroh disertai meminta maaf. Akan tetapi hendaknya jangan sampai tradisi ini menjadikan seseorang menunda untuk meminta maaf hingga tiba hari raya.

Toh ucapan "mohon maaf lahir batin" seakan-akan hanya menjadi lafal formalitas yang diucapkan tatkala hari raya mengikuti tradisi masyarakat, sebagai bentuk kata penghormatan dan pemuliaan kepada orang lain. Wallahu A'lam

 

Ketiga : Sebagian ulama membolehkan untuk memberikan ucapan selamat hari raya, sehari atau dua hari sebelum hari raya. Karena permasalahan mengucapkan selamat adalah perkara adat dan tradisi, maka hukum asalnya adalah boleh selama tidak ada dalil yang melarang.

 

Peringatan :

          Hari raya adalah hari bergembira dan bersenang-senang. Karenanya tatkala Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mendapati penduduk Madinah bermain-main pada dua hari raya tradisi mereka tatkala jahiliyah, maka Nabi mengingkari kedua hari tersebut, akan tetapi Nabi tidak mengingkari bermain-mainnya.

وَعَنْ أَنَسٍ رَضَي اللَّهُ عَنْهُ قالَ: قَدمَ رسولُ  الله صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم المدينة وَلهُم يَوْمان يَلْعبُون فيهما فقَالَ: "قَدْ أَبْدلَكمُ الله بِهِمَا خَيْراً منهما: يومَ الأضحْى ويوْمَ الْفِطْر

Dari Anas bin Malik radhiallahu 'anhu berkata : "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mendatangi kota Madinah, dan penduduk kota Madinah memiliki dua hari yang mereka bermain-main pada dua hari tersebut. Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkata : "Allah telah menggantikan kedua hari tersebut dengan dua hari yang lebih baik, yaitu hari idul Adha dan hari Idul Fithri" (HR Abu Dawud dan Nasaai)

As-Shon'aani rahimahullah berkata :

وفيه دليل على أن إظهار السرور في العيدين مندوب، وأن ذلك من الشريعة التي شرعها الله لعباده، إذ في إبدال عيد الجاهلية بالعيدين المذكورين دلالة على أنه يفعل في العيدين المشروعين ما تفعله الجاهلية في أعيادها، وإنما خالفهم في تعيين الوقتين...وأما التوسعة على العيال في الأعياد بما حصل لهم من ترويح البدن وبسط النفس من كلف العبادة فهو مشروع

"Pada hadits ini ada dalil bahwa menampakkan kegembiraan pada dua hari raya adalah perkara yang dianjurkan, dan merupakan bagian dari syari'at yang disyari'atkan oleh Allah kepada hamba-hambaNya. Karena digantinya hari raya jahiliyah dengan dua hari raya Islam menunjukkan bahwa apa yang dilakukan di dua hari raya Islam tersebut adalah apa yang juga dilakukan oleh orang-orang jahiliyah pada perayaan mereka (selama tidak dilarang-pen). Hanya saja Nabi menyelisihi dari sisi penentuan waktu dua hari rayanya... Adapun memberi kelapangan kepada anak-anak dalam hari-hari raya yang menyebabkan mereka senang dan gembira dari beban ibadah maka ini disyari'atkan" (Subulus Salaam 2/70)

Karenanya pada hari 'Ied  Nabi shallallahu 'alaihi wasallam membolehkan duff (rebana) dimainkan. Demikian juga Nabi shallallahu 'alaihi wasallam membiarkan orang-orang Habasyah untuk bermain-main di Masjid Nabawi, bahkan Aisyah menonton permainan mereka. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam juga menamakan hari-hari tasyriq dengan hari makan dan minum.

Karenanya pada hari raya -sebagaimana tradisi masyarakat kita- dibolehkan perkara-perkara berikut :

- Membuat kue lebaran

- Membelikan baju baru buat istri dan anak-anak

- Mengundang kerabat dan para sahabat untuk makan-makan di rumah kita

- Mengadakan acara halal bi halal dalam rangka untuk mempererat persaudaraan dan tali ukhuwwah islamiyah. Meskipun tentunya penamaan dengan "Halal bi Halal" adalah penamaan yang aneh dalam bahasa Arab, dan hingga saat ini saya tidak paham maksud dari penamaan tersebut. Akan tetapi esensi dari acara seperti ini diperbolehkan sebagai bentuk mengungkapkan kegembiraan tatkala hari raya. Wallahu  A'lam.

Abu Abdil Muhsin Firanda Andirja
www.firanda.com

Sumber : http://googleweblight.com/?lite_url=http://www.firanda.com/index.php/artikel/fiqh/727-minal-aidin-wal-faaizin-halal-bi-halal&ei=FPzk6xvS&lc=id-ID&s=1&m=253&ts=1436759830&sig=AKQ9UO-LQUrBfhMGr6uJSvUBZD9Wq7yRRQ

Ucapan Lebaran 1

Jangan asal tuduh, baca ini..

MINAL 'AAIDIN WAL FAAIZIIN

🌸Bahasan Makna (Minal'Aaidin Wal-Faaiziin) dan Hukum Menjadikannya Sebagai Ucapan Selamat Hari Raya🌸

Bismillaah….Bahasan ini akan terbagi dua:

Pertama: Makna "Minal'Aaidin Wal Faaizin"

Sebagian orang mungkin belum tahu akan makna yang tersurat ataupun tersirat dari kalimat ini. Juga mungkin belum tahu apakah ia adalah kalimat yang sudah benar/tidak nenurut ilmu Nahwu ataupun tata bahasa Arab??

Sebelum masuk pada pembahasan ini, saya mengingatkan dengan sangat, bahwa tidak halal bagi siapapun (apalagi yang kurang paham tentang ilmu Nahwu dan tatabahasa Arab) untuk menyalahkan apalagi menyeru orang lain untuk menyalahkan salah satu kalimat yang ia sendiri belum tahu akan makna, i'rab dan benar tidaknya penggunaannya dalam bahasa Arab, agar kita tidak terperangkap dalam jerat "Muta'aaalim" (sikap sok tahu) yang kita sendiri seringkali memperingatkan oranglain agar menjauhinya.

Sebab imbas dari rancunya pemahaman bahasa Arab ini seringkali memberi dampak negatif pada penetapan hukum syar'i seputar kalimat tersebut.

1.Apakah kalimat ini benar-benar tidak utuh?
"Minal-'Aaidin Wal Faaizin" adalah kalimat/frase doa yang terdiri dari Jarr (Min) dan Majrur (Al-'Aaidin), Artinya doa ini sama dengan frase " Ma'a An-Najaah " (secara harfiyah: Beserta keselamatan), juga " BitTaufiq (secara harfiyah: beserta taufiq), atau " Ma'a As-Salaamah " (secara harfiyah: bersama keselamatan), dll.

Semua ini adalah lafal doa yang hanya terdiri dari dua frase, kalau diartikan secara harfiyah sama sekali tidak akan menunjukkan makna yang tepat dan benar. 
Nah, dalam bahasa Arab ada yang namanya "Kalimah/Jumlah Muqaddarah" Kata/kalimat yang dihilangkan karena suatu kalimat sudah bisa dipahami tanpa mubadzir menyertakan kata/kalimat tersebut.

Contoh diatas: " Bit-taufiq ", ada kata/kalimat yang dihilangkan dari kalimat ini yaitu " Ad'uu laka " (saya mendoakanmu = Bit-Taufiq)..Ini sama halnya dengan " Minal-'Aaidin Wal Faaizin " ada kata/kalimat yang terhapus dari kalimat ini, karena sudah bisa dipahami tanpanya yaitu " Ja'alakallaahu " (Semoga Allah menjadikanmu = Minal-'Aaidin Wal Faaizin).

Bila sudah dipahami, maka tidak pantas lagi untuk menuduh bahwa kalimat ini adalah rancu, atau mengambang.

2.Makna " Minal-'Aaidin Wal Faaizin "
Makna kalimat ini adalah semoga Allah memasukanmu/memasukan kita kedalam golongan hamba-hamba yang kembali (bertaubat kepada Allah) dan golongan yang mendapatkan kemenangan (meraih ridha Allah).

Sebagian orang juga menyatakan bahwa makna " Al-'Aaidin " adalah kembali menemukan bulan Ramadhan dan hari raya ditahun-tahun mendatang, doa agar umur anda dipanjangkan selama bertahun-tahun kedepan, tidak hanya itu, tambahan doa "Wal Faaiziin" menegaskan semoga anda akan terus meraih kemenangan dengan meraih ridha-Nya, dan kebahagiaan tiap kali Ramadhan dan hari raya tersebut terulang dalam hiudpmu.

Makna ini juga disebutkan dalam link berikut ( lihat: http://ask.fm/algnadil/answer/6824879152 ) dan juga merupakan makna yang diisyaratkan oleh Fatwa Komite Fatwa Tetap Arab Saudi diakhir artikel ini.

3.Apakah benar orang-orang Arab tidak memakai kata "Minal-'Aaidin Wal Faaizin" dalam ucapan selamat hari raya mereka??

Bila anda menjawab bahwa mereka tidak mengucapkannya, maka anda telah berkata tanpa ilmu, apa salahnya bertanya terlebih dahulu??

Jawabannya adalah orang-orang Arab banyak juga menggunakan ucapan selamat dengan kalimat ini sejak puluhan tahun lalu !!!, walaupun yang populer zaman sekarang adalah "Taqabbalallaahu minna wa minkum , Kullu 'aamin wa antum bi khair" atau " 'Ied Mubaarak".

Bila anda tidak percaya, silahkan tulis kalimat tersebut (dalam huruf arab:  من العائدين والفائزين ) di situs pencarian google, pasti akan muncul banyak ucapan selamatnya orang-orang Arab disitus-situs berbahasa Arab dengan kalimat tersebut.

Kedua: Hukum Menjadikannya Sebagai Ucapan Selamat Hari Raya

Yang menjawab boleh tidaknya menjadikannya sebagai ucapan selamat hari raya adalah para ulama kibar yang tergabung dalam Komite Fatwa Tetap Kerajaan Arab Saudi yang diketuai oleh Syaikh Ibnu Baaz rahimahullah, Berikut teks fatwanya:

Fatwa no.20673
Pertanyaan: (Pertanyaan saya) seputar permasalahan yang menjadi kebiasaan orang-orang menyembelih hewan ternak pada saat idul fitri sebagai bentuk menampakkan kegembiraan dan memuliakan tamu yang datang berkunjung, demikian pula acara saling menziarahi pada hari raya ied sebagai bentuk silaturrahim dan memberikan rasa bahagia untuk tetangga, dan saudara mereka sesama muslim, serta seputar saling mengucapkan ucapan selamat pada hari raya ini dengan ucapan (TAQABBALALLAAHU MINNAA WA MINKUM),, dan (MINAL-'AAIDIIN WAL FAAIZIN) serta ('IEDUKUM MUBAARAK) dan ucapan selamat semacam ini.

Karena ada diantara kami yang mengatakan bahwa semua ini adalah bid'ah, bahkan ia enggan menziarahi keluarga, atau kerabat kenalannya, dan menyalami mereka pada hari raya, karena ia menganggap bahwa semua ini adalah bid'ah.

Orang yang saya sebutkan ini telah meminta fatwa dari kalian yang mulia dalam bentuk tulisan agar kami semua bisa mengamalkannya, sebab itu saya mengharap agar surat ini dibaca dan memberikan fatwa kepadanya sesuai yang kalian lihat.

Jawaban: Tidak mengapa menyembelih hewan ternak pada hari raya idul fitri sebagai bentuk memuliakan tamu yang datang berziarah, dengan syarat secukupnya, tanpa harus melakukan pemborosan dan berbangga-bangga dengannya, ADAPUN SALING MENGUCAPKAN SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI ANTARA SESAMA KAUM MUSLIMIN SEPERTI LAFAL YANG DISEBUTKAN PADA PERTANYAAN MAKA HUKUMNYA TIDAK APA-APA (BOLEH), KARENA MENGANDUNG DOA SEORANG MUSLIM UNTUK SAUDARANYA AGAR AMALANNYA DITERIMA, UMURNYA DIPANJANGKAN, DAN DIBERIKAN KEBAHAGIAAN, DAN TIDAK ADA HAL YANG HARAM DALAM DOA-DOA INI. Wabillaahi at-taufiiq. Washallallaahu 'alaa nabiyyinaa muhammadin wa aalihi wa shahbihi wasallam.

TTD
Ketua: Abdul'Aziz bin Abdullah bin Baaz
Wakil Ketua: Abdul'Aziz Aalu Syaikh
Anggota: Abdullah Bin Ghudayaan / Shalih Al-Fauzan.
(Majmu' Fatawa Al-Lajnah Ad-Daaimah: 7/155-156 , atau bila tidak punya kitabnya, bisa dibaca di situs resmi Lajnah Daaimah ( http://www.alifta.net/Fatawa/fatawaDetails.aspx?BookID=3&View=Page&PageNo=1&PageID=12837 ).

Dari Fatwa ini kita dapat menarik kesimpulan berikut:
Pertama: Ucapan selamat diatas adalah hukumnya boleh, Lajnah Daaimah tidak menyatakan bahwa kalimat "Minal-'Aaidin Wal Faaizin" rancu atau mengambang, atau bahwa yang lebih baik adalah menambahnya dengan ucapan " Ja'alanallaahu…" sebab memang kalimatnya sudah tepat dan sangat dipahami oleh orang Arab sendiri dan orang Ajam yang tahu seluk beluk bahasa Arab.

Kedua; Bahwa Ucapan tersebut adalah sebuah doa, bahkan Lajnah Daaimah mengisyaratkan bahwa kalimat "Minal-'Aaidin Wal Faaizin"  adalah bermakna doa umur panjang dan untuk mendapatkan kebahagiaan, dalam kalimat (UMURNYA DIPANJANGKAN, DAN DIBERIKAN KEBAHAGIAAN), dari ketiga kalimat doa/selamat diatas tidak ada doa umur panjang serta agar diberikan kebahagiaan kecuali diisyaratkan oleh kandungan doa ("Minal-'Aaidin Wal Faaizin").

Ketiga: Bahwa ketiga doa /ucapan selamat ini termasuk "Minal-'Aaidin Wal Faaizin" tidaklah mengandung makna yang haram, dan rancu. Wallaahu a'lam.

Terakhir:
Perlu diajarkan kepada masyarakat bahwa makna "Minal-'Aaidin Wal Faaizin" adalah sebagaimana yang dibahas diatas, bukan "Mohon maaf lahir dan batin", setidaknya agar mereka lebih menghayati kalimat dan makna yang seringkali mereka ucapkan pada hari raya idul fitri atau idul adha.

Wallaahu a'lam.

Ucapan Lebaran 2

Dari web : www.firanda.com

Pertanyaan

: Ustadz apa hukum mengucapkan "Minal 'Aaidin wal Faaizin" tatkala hari raya?

Jawaban : Tahni'ah (ucapan selamat) untuk hari raya idul fitri asalnya merupakan perkara adat istiadat, maka boleh berekspresi dan berinovasi dalam menghaturkan ucapan tersebut selama tidak mengandung makna yang buruk. Dan lebih disukai jika dengan menggunakan lafal-lafal yang mengandung do'a.

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-'Utsaimin rahimahullah pernah ditanya :

ما حكم التهنئة بالعيد ؟ وهل لها صيغة معينة ؟

"Apakah hukum mengucapkan selamat hari raya?, apakah ada lafal khusus?"

Beliau menjawab :

التهنئة بالعيد جائزة ، وليس لها تهنئة مخصوصة ، بل ما اعتاده، الناس فهو جائز ما لم يكن إثماً

"Mengucapkan selamat hari raya adalah boleh, dan tidak ada ucapan dengan lafal tertentu, bahkan ucapan yang merupakan kebiasaan/tradisi masyarakat adalah boleh selama tidak mengandung (makna) dosa" (Majmuu' Fataawaa Syaikh Al-'Utsaimin 16/129)

Beliau juga berkata :

"التهنئة بالعيد قد وقعت من بعض الصحابة رضي الله عنهم ، وعلى فرض أنها لم تقع فإنها الآن من الأمور العادية التي اعتادها الناس ، يهنىء بعضهم بعضاً ببلوغ العيد واستكمال الصوم والقيام"

"Mengucapkan selamat hari raya dilakukan oleh sebagian sahabat radhiyallahu 'anhum. Seandainyapun tidak dilakukan oleh para sahabat maka hal itu sekarang sudah merupakan perkara tradisi masyarakat, mereka saling memberi ucapan selamat dengan tibanya hari raya dan sempurnanya puasa dan sholat malam" (Majmuu' Fataawaa Syaikh Al-'Utsaimin 16/128)

Beliau juga ditanya :

ما حكم المصافحة ، والمعانقة والتهنئة بعد صلاة العيد ؟

"Apa hukum berjabat tangan dan berpelukan dan mengucapkan selamat setelah sholat 'ied?"

Beliau menjawab :

"هذه الأشياء لا بأس بها؛ لأن الناس لا يتخذونها على سبيل التعبد والتقرب إلى الله عز وجل، وإنما يتخذونها على سبيل العادة، والإكرام والاحترام، وما دامت عادة لم يرد الشرع بالنهي عنها فإن الأصل فيها الإباحة"

"Seluruh perkara ini tidaklah mengapa, karena masyarakat melakukannya bukan sebagai ibadah dan taqorrub kepada Allah Azza wa Jalla, akan tetapi mereka melakukannya sebagai tradisi/adat, sebagai bentuk memuliakan dan penghormatan. Dan selama hal ini merupakan tradisi dan syari'at tidak melarangnya maka hukum asal dalam perkara adat/tradisi adalah boleh" (Majmuu' Fatawa Ibnu 'Utsaimin 16/209)

Kesimpulan :

Pertama : Pengucapan selamat idul fitri merupakan perkara adat dan tradisi, maka apa yang biasa diucapkan oleh masyarakat boleh untuk diucapkan selama tidak mengandung makna yang buruk atau dosa. Dan disukai jika ucapan tersebut mengandung doa yang baik, sebagaimana telah diriwayatkan dengan sanad yang hasan bahwa para sahabat jika bertemu tatkala hari raya maka mereka saling berkata : Taqobballallahu minnaa wa minkum (Semoga Allah menerima ibadah kami dan kalian)

Bahkan secara umum seorang boleh mengucapkan selamat terhadap seseorang atas kenikmatan atau anugrah yang ia dapatkan. Seperti ada seseorang yang lulus ujian, atau naik pangkat, atau menikah, dll, maka dibolehkan kita mengucapkan selamat kepadanya atas anugrah yang ia rasakan. Dalil akan hal ini adalah kisah Ka'ab bin Malik radhiallah 'anhu -sebagaimana dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim- tatkala Allah menerima taubatnya maka  para sahabat berdatangan memberi ucapan selamat kepadanya, bahkan Tolhah beridiri berlari-lari kecil menuju Ka'ab untuk memberi selamat (Lihat Shahih Al-Bukhari no 4418 dan Muslim 2769)

Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata tentang kisah Ka'ab tersebut :

وفيه دليل على استحباب تهنئة مَن تجدَّدت له نعمة دينية، والقيام إليه إذا أقبل، ومصافحته، فهذه سُنَّة مستحَبة، وهو جائز لمن تجددت له نِعمةٌ دنيوية

"Pada kisah ini adalah dalil disunnahkannya memberi ucapan selamat atas orang yang mendapatkan kenikmatan yang bersifat agama/ukhrawi (seperti diterimanya taubat Ka'ab oleh Allah-pen) dan berdiri menuju orang tersebut jika ia datang serta berjabat tangan dengannya. Ini merupakan sunnah yang dianjurkan.

Dan hal ini (ucapan selamat dan berjabat tangan-pen) boleh dilakukan terhadap orang yang mendapatkan nikmat duniawi" (Zaadul Ma'aad 3/585)

 

Kedua  : Boleh mengucapkan lafal-lafal ucapan yang merupakan kebiasan masyarakat setempat selama tidak mengandung makna yang buruk atau dosa. Diantara lafal-lafal ucapan selamat tersebut :

-  Selamat Hari Lebaran/Idul Fitri tahun 2014 atau 1435 H

- Minal 'Aaidiin wal Faaiziin, yang artinya ; "Selamat berhari 'ied dan semoga termasuk orang-orang yang telah menang (mendapatkan pahala)"

Ucapan ini pada dasarnya adalah do'a, dan juga sering diucapkan oleh orang-orang Arab, sebagaimana saya sering mendengarnya langsung. Karenanya tidak perlu kita mempermasalahkan ucapan seperti ini dengan berandai-andai atau memaknainya dengan makna yang buruk. Karenanya tidak perlu kita mempersulit masyarakat dengan melarang mereka mengucapkan ucapan ini.

- Mohon Maaf Lahir Batin

Ini adalah ucapan yang sering terucapkan tatkala hari raya. Tentunya maksud dari ucapan tersebut adalah maafkanlah aku jika aku punya salah, maafkanlah aku secara total, karena aku meminta maaf kepadamu secara total keseluruhan lahir dan batin.

Meminta maaf merupakan perkara yang sangat terpuji jika seseorang memang benar-benar melakukan kesalahan, terlebih lagi jika ia segera meminta maaf dan tidak menunda-nundanya. Akan tetapi ucapan ini sudah menjadi tradisi masyarakat kita dan diucapkan kepada siapa saja yang ia temui apakah ia bersalah kepada orang tersebut atau tidak. Bahkan diucapkan kepada orang yang baru saja ia temui dan belum ia kenal sebelumnya, yang bisa dipastikan bahwa ia tidak memiliki kesalahan terhadap orang tersebut. Sehingga ucapan ini sudah menjadi paket bergandengan dengan "Minal 'Aidin wal Faizin".

Pada asalnya seseorang boleh-boleh saja meminta maaf tatkala hari raya, atau menjadikan hari raya adalah momen yang tepat untuk bersilaturahmi/berziaroh disertai meminta maaf. Akan tetapi hendaknya jangan sampai tradisi ini menjadikan seseorang menunda untuk meminta maaf hingga tiba hari raya.

Toh ucapan "mohon maaf lahir batin" seakan-akan hanya menjadi lafal formalitas yang diucapkan tatkala hari raya mengikuti tradisi masyarakat, sebagai bentuk kata penghormatan dan pemuliaan kepada orang lain. Wallahu A'lam

 

Ketiga : Sebagian ulama membolehkan untuk memberikan ucapan selamat hari raya, sehari atau dua hari sebelum hari raya. Karena permasalahan mengucapkan selamat adalah perkara adat dan tradisi, maka hukum asalnya adalah boleh selama tidak ada dalil yang melarang.

 

Peringatan :

          Hari raya adalah hari bergembira dan bersenang-senang. Karenanya tatkala Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mendapati penduduk Madinah bermain-main pada dua hari raya tradisi mereka tatkala jahiliyah, maka Nabi mengingkari kedua hari tersebut, akan tetapi Nabi tidak mengingkari bermain-mainnya.

وَعَنْ أَنَسٍ رَضَي اللَّهُ عَنْهُ قالَ: قَدمَ رسولُ  الله صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم المدينة وَلهُم يَوْمان يَلْعبُون فيهما فقَالَ: "قَدْ أَبْدلَكمُ الله بِهِمَا خَيْراً منهما: يومَ الأضحْى ويوْمَ الْفِطْر

Dari Anas bin Malik radhiallahu 'anhu berkata : "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mendatangi kota Madinah, dan penduduk kota Madinah memiliki dua hari yang mereka bermain-main pada dua hari tersebut. Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkata : "Allah telah menggantikan kedua hari tersebut dengan dua hari yang lebih baik, yaitu hari idul Adha dan hari Idul Fithri" (HR Abu Dawud dan Nasaai)

As-Shon'aani rahimahullah berkata :

وفيه دليل على أن إظهار السرور في العيدين مندوب، وأن ذلك من الشريعة التي شرعها الله لعباده، إذ في إبدال عيد الجاهلية بالعيدين المذكورين دلالة على أنه يفعل في العيدين المشروعين ما تفعله الجاهلية في أعيادها، وإنما خالفهم في تعيين الوقتين...وأما التوسعة على العيال في الأعياد بما حصل لهم من ترويح البدن وبسط النفس من كلف العبادة فهو مشروع

"Pada hadits ini ada dalil bahwa menampakkan kegembiraan pada dua hari raya adalah perkara yang dianjurkan, dan merupakan bagian dari syari'at yang disyari'atkan oleh Allah kepada hamba-hambaNya. Karena digantinya hari raya jahiliyah dengan dua hari raya Islam menunjukkan bahwa apa yang dilakukan di dua hari raya Islam tersebut adalah apa yang juga dilakukan oleh orang-orang jahiliyah pada perayaan mereka (selama tidak dilarang-pen). Hanya saja Nabi menyelisihi dari sisi penentuan waktu dua hari rayanya... Adapun memberi kelapangan kepada anak-anak dalam hari-hari raya yang menyebabkan mereka senang dan gembira dari beban ibadah maka ini disyari'atkan" (Subulus Salaam 2/70)

Karenanya pada hari 'Ied  Nabi shallallahu 'alaihi wasallam membolehkan duff (rebana) dimainkan. Demikian juga Nabi shallallahu 'alaihi wasallam membiarkan orang-orang Habasyah untuk bermain-main di Masjid Nabawi, bahkan Aisyah menonton permainan mereka. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam juga menamakan hari-hari tasyriq dengan hari makan dan minum.

Karenanya pada hari raya -sebagaimana tradisi masyarakat kita- dibolehkan perkara-perkara berikut :

- Membuat kue lebaran

- Membelikan baju baru buat istri dan anak-anak

- Mengundang kerabat dan para sahabat untuk makan-makan di rumah kita

- Mengadakan acara halal bi halal dalam rangka untuk mempererat persaudaraan dan tali ukhuwwah islamiyah. Meskipun tentunya penamaan dengan "Halal bi Halal" adalah penamaan yang aneh dalam bahasa Arab, dan hingga saat ini saya tidak paham maksud dari penamaan tersebut. Akan tetapi esensi dari acara seperti ini diperbolehkan sebagai bentuk mengungkapkan kegembiraan tatkala hari raya. Wallahu  A'lam.

Abu Abdil Muhsin Firanda Andirja
www.firanda.com

Sumber : http://googleweblight.com/?lite_url=http://www.firanda.com/index.php/artikel/fiqh/727-minal-aidin-wal-faaizin-halal-bi-halal&ei=FPzk6xvS&lc=id-ID&s=1&m=253&ts=1436759830&sig=AKQ9UO-LQUrBfhMGr6uJSvUBZD9Wq7yRRQ

Ucapan Lebaran 1

Jangan asal tuduh, baca ini..

MINAL 'AAIDIN WAL FAAIZIIN

🌸Bahasan Makna (Minal'Aaidin Wal-Faaiziin) dan Hukum Menjadikannya Sebagai Ucapan Selamat Hari Raya🌸

Bismillaah….Bahasan ini akan terbagi dua:

Pertama: Makna "Minal'Aaidin Wal Faaizin"

Sebagian orang mungkin belum tahu akan makna yang tersurat ataupun tersirat dari kalimat ini. Juga mungkin belum tahu apakah ia adalah kalimat yang sudah benar/tidak nenurut ilmu Nahwu ataupun tata bahasa Arab??

Sebelum masuk pada pembahasan ini, saya mengingatkan dengan sangat, bahwa tidak halal bagi siapapun (apalagi yang kurang paham tentang ilmu Nahwu dan tatabahasa Arab) untuk menyalahkan apalagi menyeru orang lain untuk menyalahkan salah satu kalimat yang ia sendiri belum tahu akan makna, i'rab dan benar tidaknya penggunaannya dalam bahasa Arab, agar kita tidak terperangkap dalam jerat "Muta'aaalim" (sikap sok tahu) yang kita sendiri seringkali memperingatkan oranglain agar menjauhinya.

Sebab imbas dari rancunya pemahaman bahasa Arab ini seringkali memberi dampak negatif pada penetapan hukum syar'i seputar kalimat tersebut.

1.Apakah kalimat ini benar-benar tidak utuh?
"Minal-'Aaidin Wal Faaizin" adalah kalimat/frase doa yang terdiri dari Jarr (Min) dan Majrur (Al-'Aaidin), Artinya doa ini sama dengan frase " Ma'a An-Najaah " (secara harfiyah: Beserta keselamatan), juga " BitTaufiq (secara harfiyah: beserta taufiq), atau " Ma'a As-Salaamah " (secara harfiyah: bersama keselamatan), dll.

Semua ini adalah lafal doa yang hanya terdiri dari dua frase, kalau diartikan secara harfiyah sama sekali tidak akan menunjukkan makna yang tepat dan benar. 
Nah, dalam bahasa Arab ada yang namanya "Kalimah/Jumlah Muqaddarah" Kata/kalimat yang dihilangkan karena suatu kalimat sudah bisa dipahami tanpa mubadzir menyertakan kata/kalimat tersebut.

Contoh diatas: " Bit-taufiq ", ada kata/kalimat yang dihilangkan dari kalimat ini yaitu " Ad'uu laka " (saya mendoakanmu = Bit-Taufiq)..Ini sama halnya dengan " Minal-'Aaidin Wal Faaizin " ada kata/kalimat yang terhapus dari kalimat ini, karena sudah bisa dipahami tanpanya yaitu " Ja'alakallaahu " (Semoga Allah menjadikanmu = Minal-'Aaidin Wal Faaizin).

Bila sudah dipahami, maka tidak pantas lagi untuk menuduh bahwa kalimat ini adalah rancu, atau mengambang.

2.Makna " Minal-'Aaidin Wal Faaizin "
Makna kalimat ini adalah semoga Allah memasukanmu/memasukan kita kedalam golongan hamba-hamba yang kembali (bertaubat kepada Allah) dan golongan yang mendapatkan kemenangan (meraih ridha Allah).

Sebagian orang juga menyatakan bahwa makna " Al-'Aaidin " adalah kembali menemukan bulan Ramadhan dan hari raya ditahun-tahun mendatang, doa agar umur anda dipanjangkan selama bertahun-tahun kedepan, tidak hanya itu, tambahan doa "Wal Faaiziin" menegaskan semoga anda akan terus meraih kemenangan dengan meraih ridha-Nya, dan kebahagiaan tiap kali Ramadhan dan hari raya tersebut terulang dalam hiudpmu.

Makna ini juga disebutkan dalam link berikut ( lihat: http://ask.fm/algnadil/answer/6824879152 ) dan juga merupakan makna yang diisyaratkan oleh Fatwa Komite Fatwa Tetap Arab Saudi diakhir artikel ini.

3.Apakah benar orang-orang Arab tidak memakai kata "Minal-'Aaidin Wal Faaizin" dalam ucapan selamat hari raya mereka??

Bila anda menjawab bahwa mereka tidak mengucapkannya, maka anda telah berkata tanpa ilmu, apa salahnya bertanya terlebih dahulu??

Jawabannya adalah orang-orang Arab banyak juga menggunakan ucapan selamat dengan kalimat ini sejak puluhan tahun lalu !!!, walaupun yang populer zaman sekarang adalah "Taqabbalallaahu minna wa minkum , Kullu 'aamin wa antum bi khair" atau " 'Ied Mubaarak".

Bila anda tidak percaya, silahkan tulis kalimat tersebut (dalam huruf arab:  من العائدين والفائزين ) di situs pencarian google, pasti akan muncul banyak ucapan selamatnya orang-orang Arab disitus-situs berbahasa Arab dengan kalimat tersebut.

Kedua: Hukum Menjadikannya Sebagai Ucapan Selamat Hari Raya

Yang menjawab boleh tidaknya menjadikannya sebagai ucapan selamat hari raya adalah para ulama kibar yang tergabung dalam Komite Fatwa Tetap Kerajaan Arab Saudi yang diketuai oleh Syaikh Ibnu Baaz rahimahullah, Berikut teks fatwanya:

Fatwa no.20673
Pertanyaan: (Pertanyaan saya) seputar permasalahan yang menjadi kebiasaan orang-orang menyembelih hewan ternak pada saat idul fitri sebagai bentuk menampakkan kegembiraan dan memuliakan tamu yang datang berkunjung, demikian pula acara saling menziarahi pada hari raya ied sebagai bentuk silaturrahim dan memberikan rasa bahagia untuk tetangga, dan saudara mereka sesama muslim, serta seputar saling mengucapkan ucapan selamat pada hari raya ini dengan ucapan (TAQABBALALLAAHU MINNAA WA MINKUM),, dan (MINAL-'AAIDIIN WAL FAAIZIN) serta ('IEDUKUM MUBAARAK) dan ucapan selamat semacam ini.

Karena ada diantara kami yang mengatakan bahwa semua ini adalah bid'ah, bahkan ia enggan menziarahi keluarga, atau kerabat kenalannya, dan menyalami mereka pada hari raya, karena ia menganggap bahwa semua ini adalah bid'ah.

Orang yang saya sebutkan ini telah meminta fatwa dari kalian yang mulia dalam bentuk tulisan agar kami semua bisa mengamalkannya, sebab itu saya mengharap agar surat ini dibaca dan memberikan fatwa kepadanya sesuai yang kalian lihat.

Jawaban: Tidak mengapa menyembelih hewan ternak pada hari raya idul fitri sebagai bentuk memuliakan tamu yang datang berziarah, dengan syarat secukupnya, tanpa harus melakukan pemborosan dan berbangga-bangga dengannya, ADAPUN SALING MENGUCAPKAN SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI ANTARA SESAMA KAUM MUSLIMIN SEPERTI LAFAL YANG DISEBUTKAN PADA PERTANYAAN MAKA HUKUMNYA TIDAK APA-APA (BOLEH), KARENA MENGANDUNG DOA SEORANG MUSLIM UNTUK SAUDARANYA AGAR AMALANNYA DITERIMA, UMURNYA DIPANJANGKAN, DAN DIBERIKAN KEBAHAGIAAN, DAN TIDAK ADA HAL YANG HARAM DALAM DOA-DOA INI. Wabillaahi at-taufiiq. Washallallaahu 'alaa nabiyyinaa muhammadin wa aalihi wa shahbihi wasallam.

TTD
Ketua: Abdul'Aziz bin Abdullah bin Baaz
Wakil Ketua: Abdul'Aziz Aalu Syaikh
Anggota: Abdullah Bin Ghudayaan / Shalih Al-Fauzan.
(Majmu' Fatawa Al-Lajnah Ad-Daaimah: 7/155-156 , atau bila tidak punya kitabnya, bisa dibaca di situs resmi Lajnah Daaimah ( http://www.alifta.net/Fatawa/fatawaDetails.aspx?BookID=3&View=Page&PageNo=1&PageID=12837 ).

Dari Fatwa ini kita dapat menarik kesimpulan berikut:
Pertama: Ucapan selamat diatas adalah hukumnya boleh, Lajnah Daaimah tidak menyatakan bahwa kalimat "Minal-'Aaidin Wal Faaizin" rancu atau mengambang, atau bahwa yang lebih baik adalah menambahnya dengan ucapan " Ja'alanallaahu…" sebab memang kalimatnya sudah tepat dan sangat dipahami oleh orang Arab sendiri dan orang Ajam yang tahu seluk beluk bahasa Arab.

Kedua; Bahwa Ucapan tersebut adalah sebuah doa, bahkan Lajnah Daaimah mengisyaratkan bahwa kalimat "Minal-'Aaidin Wal Faaizin"  adalah bermakna doa umur panjang dan untuk mendapatkan kebahagiaan, dalam kalimat (UMURNYA DIPANJANGKAN, DAN DIBERIKAN KEBAHAGIAAN), dari ketiga kalimat doa/selamat diatas tidak ada doa umur panjang serta agar diberikan kebahagiaan kecuali diisyaratkan oleh kandungan doa ("Minal-'Aaidin Wal Faaizin").

Ketiga: Bahwa ketiga doa /ucapan selamat ini termasuk "Minal-'Aaidin Wal Faaizin" tidaklah mengandung makna yang haram, dan rancu. Wallaahu a'lam.

Terakhir:
Perlu diajarkan kepada masyarakat bahwa makna "Minal-'Aaidin Wal Faaizin" adalah sebagaimana yang dibahas diatas, bukan "Mohon maaf lahir dan batin", setidaknya agar mereka lebih menghayati kalimat dan makna yang seringkali mereka ucapkan pada hari raya idul fitri atau idul adha.

Wallaahu a'lam.

Bersambung

Thursday, July 16, 2015

Air Zam-zam

Permukaan air ZamZam adalah sekitar 10.6 kaki di bawah permukaan tanah .
Adalah sebuah mukjizat dari Allah SWT bahwa ketika sumur Zam Zam
dipompa terus menerus selama 24 jam tanpa henti dengan tingkat sedotan 8 ribu liter/detik, permukaan sumur akan turun hingga 44 kaki di bawah permukaan tanah.

TETAPI, ketika pemompaan berhenti, permukaan sumur segera kembali pada 13 kaki di bawah permukaan tanah setelah 11 menit.

8 ribu liter/detik

Berarti 8,000 x 60 = 480,000 liter/menit
Berarti 480,000 x 60 = 28.8 juta liter/jam
Berarti 28,800,000 x 24 = 691.2 juta liter/hari

Jadi ada 690 juta liter air ZamZam dipompa dalam 24 jam tetapi sumurnya terisi kembali hanya dalam waktu 11 menit !!!

Ada dua mukjizat di sini.

Pertama, bahwa sumur ZamZam terisi kembali dengan segera, & kedua bahwa Allah SWT memiliki kontrol absolut yang luar biasa untuk tidak mengisi sumur Zam Zam secara berlebihan sebab jika tidak terkontrol, dunia bisa-bisa TENGGELAM oleh luapan air Zam Zam yang demikian besar!

Kejadian ini sesungguhnya adalah terjemahan dari kata Zam Zam, yang berarti "Stop !!!!!!!!!!!!Stop !!!!!!!!!!!!!!!", demikian kata Hajirah Alaih As Salaam.

Silahkan share ini ke sebanyak mungkin orang agar diketahui bahwa Zam Zam adalah salah satu bukti otentik kebesaran Allah SWT.

Perang Ain Jalut

Ain Jalut, Awal Kehancuran Pasukan Tartar 

Kilas Balik Peristiwa Monumental di Bulan Romdhon  

Pertengahan bulan Muharam 656 H, pasukan Tartar yang dipimpin Hulagu Khan dengan jenderal perang Kitbugha Noen sampai di benteng Bagdad. Mereka mulai menggali parit dan membangun pangkalan militer untuk bersiap menyerang Bagdad. Majaniq pelempar batu, kendaran-kendaraan perang dan peluncur anak panah siap dioperasikan, menjadikan Bagdad sebagai sasaran empuk baik siang maupun malam.
Adalah Ibn Al-Alqami seorang syiah, wazir khalifah Al-Musta'shim melakukan pengkhianatan dengan bergabung dengan pasukan Tartar dan berkata manis di depan Khalifah, merayunya untuk keluar menuju Hulagu Khan.

Perjanjian damai disepakati, Khalifah memerintahkan seluruh tentara dan warga Bagdad untuk meletakkan senjata. Sementara Khalifah digiring tentara Tartar menuju Istana. Di sana, seluruh barang berharga dirampas pasukan tartar dan orang-orang yang berkhianat.
Khalifah dibunuh dengan cara di masukkan ke dalam tas besar lalu ditendang oleh sejumlah tentara. Menandakan berakhirnya kekuasaan dinasti Abbasiah.

Pasukan Tartar mulai memasuki pemukiman penduduk dan menebarkan bencana yang besar bagi umat Islam. Mereka membunuh setiap orang yang mereka jumpai, hingga bayi-bayi yang masih berada dalam kandungan. Mereka menjarah semua harta, merobohkan rumah-rumah dan membakar buku-buku, hingga air sungai Tigris berwarna hitam penuh abu bercampur darah.

Bulan Shafar 658 H, pasukan Tartar tiba di Aleppo.
Di sana, apa yang mereka lakukan tidak jauh berbeda dengan di Bagdad. Selanjutnya mereka meluluhlantakkan kota Damaskus.
Saat itu, kaum Nashrani Damaskus mulai menampakkan kesombongannya. Mereka mulai mengangkat salib-salib mereka, menuangkan khamar di masjid-masjid dan menyiramkannya kepada orang-orang yang sedang shalat.

Perang Ain Jalut

Sebelum menyerang Mesir, Hulagu Khan mengirim surat kepada penguasa Mesir, Muzhaffar Saifuddin "Quthuz" bin Abdillah Al-Muiz yang berasal dari keturunan para sultan Al-Khawarizmi di Asia Tengah, yang sebelumnya telah dibumi hagus oleh Kaisar Jengis Khan, kakek Hulagu Khan. Dalam suratnya Hulagu Khan meminta Saifuddin Quthuz untuk menyerah. Ketakutanpun menghantui warga mesir, hingga akhirnya Saifuddin Quthuz menyerukan semangat jihad, atas nasehat Al-Imam Izzuddin bin Abdis Salam.

Ramadlan 658 H, bersama 40.000 tentara, Saifuddin Quthuz bergerak menuju Shalihiyah, lalu mengobarkan semangat jihad di sana, kemudian mengangkar Ruknuddin Baibars untuk memimpin Pasukan menuju Gaza.

Sementara itu Hulagu Khan memerintahkan Kitbugha Noen panglima Tartar yang kristen, menggantikan kedudukannya, sedangkan dia sendiri pulang ke Cina untuk ikut serta dalam pemilihan Khan penguasa Mongol, setelah kematian penguasa sebelumnya, yaitu Mongke Khan, kakak Hulagu Khan.

Di Ain Jalut, dataran luas yang dikelilingi perbukitan di bagian barat, Saifuddin Quthuz menyusun strategi perang menghadapai tentara Tartar. Tak disangka datang seorang utusan dari Sharimuddin Baibars, seorang pemimpin Syam yang bekerja sama dengan Hulaghu Khan dalam menaklukkan negara Islam. Dia menyampaikan pesan bahwa Sharimuddin Baibars akan membantu pasukan Muslimin dari dalam barisan pasukan Tartar Mongol dan membawa tiga informasi penting lainnya.

Dia menginformasikan bahwa pasukan Tartar Mongol tidak sebanyak pasukan yang telah menaklukkan negara Islam sebelumnya, dan sayap kanan pasukan Tartar Mongol lebih kuat, serta berita bahwa Al-Asyraf al-Ayyuby menarik dirinya untuk memerangi pasukan Muslimin dan akan menghancurkan pasukan Tartar Mongol dari dalam barisan mereka. Mendengar berita tersebut, Saifuddin Quthuz dan para pemimpin militer lainnya antara membenarkan dan meragukan informasi tersebut.
Dengan segera mereka mempersiapkan berbagai strategi.

Malam harinya adalah malam ke 25 Ramadhan 658 H, Saifuddin Quthuz dan seluruh pasukan muslimin beribadah dan bermunajat kepada Allah dengan penuh khusyuk agar diberikan kemenangan pada esok harinya.

Setelah menunaikan shalat subuh dengan penuh khusyuk. Matahari di ufuk timur telah menampakkan wajahnya, dari jauh pasukan muslimin melihat pasukan Tartar Mongol datang dalam jumlah besar. Saifuddin Quthuz mengisyaratkan kepada pasukan pertama yang dipimpin Ruknuddin Baibas untuk turun ke medan terbuka yang secara perlahan dan pasukan lainnya bersembunyi di perbukitan. Melihat kehadiran pasukan muslimin menuruni bukit, Katbugha Noen panglima pasukan Tartar Mongol terkejut dan terkesima melihat kerapian mereka. Tidak menyangka masih ada kaum muslimin yang masih mempertahankan dirinya dan maju ke medan peperangan dengan gagah berani. Ia terbiasa menyaksikan ketakutan kaum muslimin dengan kedatangan pasukan Tartar Mongol di mana saja. Melihat sedikitnya pasukan muslimin, Katbugha Noen bermaksud menghancurkan kekuatan pasukan Islam ini dengan sekali pukulan. Dengan satu perintah ia mengarahkan seluruh pasukannya tanpa meninggalkan pasukan cadangan dengan maksud satu kali serangan saja pasukan Islam luluh lantak. Pada saat penting ini tampil berperan pasukan beduk dan terompet memberi isyarat dengan arahan Saifuddin Quthuz. Setiap pukulan dan tiupan terompet memiliki makna.

Saifuddin Quthuz memberi isyarat maju kepada pasukannya. Dengan serentak, di bawah komando Ruknuddin baibars pasukan Islam mulai menyerang. Akhirnya kedua pasukan bertemu, dan perang pun tak terelakkan lagi. Senjata saling beradu dan korban berjatuhan.

Pemandangan berubah seketika. Tatkala takbir para petani Palestina mengiringi berlangsungnya pertempuran hebat yang tidak pernah mereka saksikan sebelumnya. Dari jauh Saifuddin Quthuz dengan sabar dan tenang, mengamati dan mengontrol gerakan pasukannya. Kemudian mengisyaratkan untuk melakukan strategi mundur perlahan ke arah selatan 'Ain Jalut memancing pasukan Tartar Mongol ke tengah pasukan Islam yang bersembunyi di perbukitan yang mengelilingi medan 'Ain Jalut.

Manuver ini terlaksana dengan baik. Pada waktu yang tepat manuver lainnya dilakukan, isyarat kepungan ditunjukkan oleh Saifuddin Quthuz sehingga pasukan Islam turun dari perbukitan lalu mengepung pasukan Tartar mongol dari semua penjuru. Katbugha Noen terkejut dengan strategi pasukan Islam dan menyadari bahwa mereka telah dikepung di medan 'Ain Jalut. Tidak ada kesempatan untuk lari. Mereka harus bertempur dengan seluruh kekuatan yang mereka miliki meski semua gerakan mereka terlihat bebas oleh pasukan muslimin.

Sayap kanan pasukan Tartar sungguh kuat. Hampir saja sayap kiri pasukan muslimin dikuasai dan membalikkan kepungan. Saifuddin Quthuz mengamati pasukannya dan memerintahkan pasukan cadangan untuk membantu sayap kiri pasukan Islam. Namun tetap belum bisa mengimbangi kekuatan Pasukan Tartar Mongol.

Saifuddin Quthuz melihat pasukan Islam gentar terhadapa pasukan Tartar, akhirnya Saifuddin Quthuz turun berperang bersama pasukannya. Dengan membuka perlengkapan perangnya ia memacu kuda dan berteriak "wa islamah, wa islamah", langsung menerobos pasukan musuh tanpa ada keraguan dan berpikir panjang dengan masa mudanya yang masih panjang. Ia memberi pelajaran berharga kepada semua kaum muslimin agar mencari syahid dan tidak gentar terhadap musuh.

Hal ini menambah semangat dan mental pasukan muslimin untuk mencari syahid fi sabilillah. Akhirnya pasukan Islam dapat mengalahkan pasukan Tartar Mongol di bawah kepemimpinan Saifuddin Quthuz. Kitbugha Noen tewas diantara tumpukan mayat tentara Tartar.
Saifuddin Quthuz bersujud dan berkata: "Sekarang aku dapat tidur dengan tenang!".

Selanjutnya Baibars, bergerak menuju Damaskus dan dan Aleppo membersihkan sisa-sisa pasukan Tartar, membebaskan tawanan-tawanan muslim dan menghukum para pengkhianat nasrani yang membantu pasukan Tartar menghancurkan Damaskus.

Pasukan Hulagu yang dikirim untuk membalas kekalahan dari bani Mamluk sebagian dihadang oleh pasukan Berke Khan, Khan Mongol yang menguasai wilayah Rusia dan Kaukasus yang sudah memeluk agama Islam dan bersekutu dengan bani Mamluk dalam menghadapi serbuan balasan ini. Terjadilah perang saudara, yang terkenal dengan sebutan perang Berke-Hulagu yang berakhir dengan kekalahan telak dari pasukan Hulagu. Sebagian pasukan Hulagu lainnya yang berhasil sampai di Syria bertempur dengan pasukan muslim dari bani Mamluk pimpinan Baibars dan berhasil dihancurkan juga.  

Sepenggal kisah keteladanan jihad di bulan Romadhon untuk membangkitkan kembali semangat jihad yang mulai melemah karena gelimang dosa dan syahwat dalam ummat.

Mari kita sambut seruan kemenangan dan janji pertolongan dari Allah عز وجل,
ياأيها الذين آمنوا إن تنصروا الله ينصركم ويثبت أقدامكم.

"Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian menolong (agama) Allah, niscaya Allah akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu." (Muhammad:7)

Referensi: - Al-Intishar Ala at-Tatar, Karya Sami bin Khalid Al-Hamud  

Abu Yusuf Masruhin

Membayar Zakat Fitrah Menggunakan Uang

BOLEHKAH MEMBAYAR ZAKAT FITRAH DALAM BENTUK UANG?

asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah

"TIDAK BOLEH menunaikan zakat dengan uang sebagai ganti bahan makanan, karena hal ini tidak sesuai dengan yang diperintahkan.

Sementara, uang pun ada pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sekiranya boleh membayar zakat fithr dengan uang niscaya beliau akan menjelaskan kepada umatnya.

Adapun yang berfatwa tentang boleh menunaikan zakat fithr dengan uang, maka dia telah berfatwa sebatas pada ijtihadnya, sedangkan ijtihad bisa salah dan bisa benar. Perbuatan membayar zakat dengan uang ini MENYILISIHI SUNNAH, dan tidak pernah dinukilkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga tidak dinukil dari seorang pun dari sahabat beliau.

al-Imam Ahmad berkata, “Tidak boleh membayar (zakat) dengan uang.” Dikatakan kepada beliau, “Ada sekelompok orang berkata, ‘Umar bin Abdul Aziz dulu memungut (zakat dengan) uang.” Maka beliau menjawab, “Mereka meninggalkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Seseorang mengatakan begini, sementara Ibnu ‘Umar pernah berkata, ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithr dengan 1 sha’ (bahan makanan).” Selesai.

sumber
http://www.alfawzan.af.org.sa/node/14927

Wednesday, July 15, 2015

Hak dan Kewajiban Pasutri

Copas dr sebelah

Di Subuh yang dingin...ku dapati Ibu sudah sibuk memasak di dapur.      

"Ibu masak apa? Bisa ku bantu?"

"Ini masak gurame goreng.
Sama sambal tomat kesukaan Bapak" sahutnya.

"Alhamdulillah.. mantab pasti..  Eh Bu.. calon istriku kayaknya dia tidak bisa masak loh..."

"Iya terus kenapa..?" Sahut Ibu.

"Ya tidak kenapa2 sih Bu.. hanya cerita saja, biar Ibu tak kecewa,  hehehe"..

"Apa kamu pikir bahwa memasak, mencuci, menyapu, mengurus rumah dan lain lain itu kewajiban Wanita?"

Aku menatap Ibu dengan tak paham.

Lalu beliau melanjutkan:
"Ketahuilah Nak, itu semua adalah kewajiban Lelaki. Kewajiban kamu nanti kalau sdh beristri."
katanya sambil menyentil hidungku

"Lho, bukankah Ibu setiap hari melakukannya?"

Aku masih tak paham juga.

"Kewajiban Istri adalah taat dan mencari ridho Suami." kata Ibu.

"Karena Bapakmu mungkin tidak bisa mengurusi rumah, maka Ibu bantu mengurusi semuanya.
Bukan atas nama kewajiban, tetapi sebagai wujud cinta dan juga wujud Istri yang mencari ridho Suaminya"

Saya makin bingung Bu.

"Baik, anandaku sayang. Ini ilmu buat kamu yang mau menikah."

Beliau berbalik menatap mataku.
"Menurutmu, pengertian nafkah itu seperti apa?
Bukankah kewajiban Lelaki untuk menafkahi Istri?
Baik itu sandang, pangan, dan papan?" tanya Ibu.

"Iya tentu saja Bu.."

"Pakaian yang bersih adalah nafkah.
Sehingga mencuci adalah kewajiban Suami.
Makanan adalah nafkah.
Maka kalau masih berupa beras, itu masih setengah nafkah.
Karena belum bisa di makan.
Sehingga memasak adalah kewajiban Suami.
Lalu menyiapkan rumah tinggal adalah kewajiban Suami.
Sehingga kebersihan rumah adalah kewajiban Suami."

Mataku membelalak mendengar uraian Bundaku cerdas kebanggaanku ini.

"Waaaaah.. sampai segitunya bu..?
Lalu jika itu semua kewajiban Suami.
Kenapa Ibu tetap melakukan itu semuanya tanpa menuntut Bapak sekalipun?"

"Karena Ibu juga seorang Istri yang mencari ridho dari Suaminya.
Ibu juga mencari pahala agar selamat di akhirat sana.
Karena Ibu mencintai Ayahmu, mana mungkin Ibu tega menyuruh Ayahmu melakukan semuanya.
Jika Ayahmu berpunya mungkin pembantu bisa jadi solusi.
Tapi jika belum ada, ini adalah ladang pahala untuk Ibu."

Aku hanya diam terpesona.

"Pernah dengar cerita Fatimah yang meminta pembantu kepada Ayahandanya, Nabi, karena tangannya lebam  menumbuk tepung?
Tapi Nabi tidak memberinya.
Atau pernah dengar juga saat Umar bin Khatab diomeli Istrinya?
Umar diam saja karena beliau tahu betul bahwa wanita kecintaannya sudah melakukan tugas macam2 yang sebenarnya itu bukanlah tugas si Istri."

"Iya Buu..."

Aku mulai paham,
"Jadi Laki-Laki selama ini salah sangka ya Bu, seharusnya setiap Lelaki bertrimakasih pada Istrinya. Lebih sayang dan lebih menghormati jerih payah Istri."

Ibuku tersenyum.

"Eh. Pertanyaanku lagi Bu, kenapa Ibu tetap mau melakukan semuanya padahal itu bukan kewajiban Ibu?"

"Menikah bukan hanya soal menuntut hak kita, Nak.
Istri menuntut Suami, atau sebaliknya.
Tapi banyak hal lain.
Menurunkan ego.
Menjaga keharmonisan. Mau sama mengalah.
Kerja sama.
Kasih sayang.
Cinta.
Dan Persahabatan.
Menikah itu perlombaan untuk berusaha melakukan yang terbaik satu sama lain.
Yang Wanita sebaik mungkin membantu Suaminya.
Yang Lelaki sebaik mungkin membantu Istrinya.
Toh impiannya rumah tangga sampai Surga"

"MasyaAllah.... eeh kalo calon istriku tahu hal ini lalu dia jadi malas ngapa2 in, gimana Bu?"

"Wanita beragama yg baik tentu tahu bahwa ia harus mencari keridhoan Suaminya.
Sehingga tidak mungkin setega itu.
Sedang Lelaki beragama yg baik tentu juga tahu bahwa Istrinya telah banyak membantu.
Sehingga tidak ada cara lain selain lebih mencintainya"

Hening...

Pelajaran yang indah.

Semoga Allah berikan kemudahan dlm setiap langkah ikhtiar kita semua..

Ruh Atau Jasad?!

RUH ATAU JASAD? 

Tatkala RUH manusia telah meninggalkan jasadnya, sadarlah kita bahwa jasad sudah tidak ada gunanya lagi. Berhentilah seluruh aktifitas anggota tubuh kita, mata sudah tidak bisa melihat, telinga sudah tidak bisa mendengar, hidung sudah tidak bisa menghirup udara, mulut sudah tidak bisa berucap, jantung sudah tidak berdetak, kaki sudah tidak bisa berjalan.

Ada sebuah pertanyaan BESAR yang perlu kita renungkan lebih dalam "MANUSIA yang sebenarnya apakah RUH atau JASAD?"

Tentu saja kita akan sepakat menjawab, Manusia adalah RUH, bukanlah jasad. Karena jasad tanpa RUH adalah seonggok bangkai yang tidak ada gunanya, tidak bermanfaat bagi yang lainnya, bahkan perlu dikubur, karena akan menimbulkan madharat bagi manusia lainnya.  

Sadarkah kita, bahwa yang selama ini kita hiasi dan kita pedulikan serta kita perhatikan adalah Jasad-Jasad kita. Padahal kita sepakat bahwa yang utama dan paling penting pada diri Manusia adalah RUH, sangat bodohlah kita karena melupakan yang paling UTAMA dan terpenting.

Maka seyogyanya kita sebagai seorang Muslim, merubah pola hidup kita yang sudah bertahun-tahun bahkan puluhan tahun lebih mengutamakan dalam pembenahan jasad, dibanding Ruh.

Wahai Saudara-saudariku, benahilah Ruh-Ruh kalian, dengan memperdalam keIslaman dan meningkatkan keimanan kita, sehingga kita mencapai tujuan utama kita, yaitu bertemu dengan Rabb yang selama ini kita ibadahi, di surgaNya kelak.

Kisah Hindu Masuk Islam

Jalan Menuju Hidayah

Kisah Seorang Hindu Masuk Islam...

Beberapa waktu yang lalu ada seseorang yang berkebangsaan India yang masuk Islam setelah ia meninggalkan agamanya Hindu

Yang aneh adalah kisah sebab hidayah keislamannya....!!

Dimana ia bekerja di Kantor Jawazat (imigrasi) Kabupaten Unaizah (Propinsi Al-Qassim KSA) dan pada asalnya sebenarnya ia menolak tentang ajaran Islam...

Hingga datanglah seorang India muslim lain yang bekerja dibagian cleaning service yang bagus bacaan Al-Qur'an nya

Dan yang membuat orang Hindi yang beragama Hindu tersebut merasa sangat keheranan adalah bahwa pekerja (tukang bersih bersih ini) diminta untuk maju mengimami shalat sedangkan di belakangnya (yang menjadi makmum) adalah ada beberapa komandan dan personil jawazat lainnya... Hingga ia bertanya, "Bagaimana engkau bisa mengimami mereka padahal mereka adalah orang-orang yang kedudukannya tinggi...?"

Maka orang India yang muslim pun berkata Tidak dikenal dalam (agama kami) yang menjadi imam dalam shalat kecuali yang paling bagus diantara meraka bacaan Al-Qur'an nya"

Maka ia pun masuk Islam setelah itu....

Alhamdulillah... sungguh agama Islam memang mulia dan memuliakan pemeluknya... semoga Allah ta'ala memberikan keteguhan dan keistiqamahan kepadanya dan kepada kita semua diatas agamaNya

Demikian, wabillahi at-taufiiq

#RamadhanbulanAlQuran

Catatan: Jawazat adalah kantor untuk mengurusi hal-hal yang berhubungan dgn paspor, iqomah (ktp), surat menyurat perizinan kepulangan kenegara asal dan urusan lainnya

____________
Unaizah, 12 Ramadhan 1436 H.
Diterjemahkan dari tek bahasa Arab oleh: Andri Abdul Halim, Lc.

------------------------
♻ Silsilah Nasihat Edisi Ramdahan (11)
📝 Broadcast WA Dakwah Jalyat Unaiza_Indo

Monday, July 13, 2015

Ia Akan Segera Pergi

| Surat Perpisahan |

Sahabat,
Aku akan pulang...
Sudah hampir sebulan bertamu namun seringkali aku ditinggal sendirian.

Walau sering dikatakan istimewa namun perlakuanmu tak luar biasa.

Oleh-olehku nyaris tak kau sentuh...

Alquran hanya dibaca sekilas, kalah dengan update status smartphone dan tontonan.

Shalat tak lebih khusyu, kalah bersaing dengan ingatan akan lebaran.

Tak banyak kau minta ampunan, karena sibuk menumpuk harta demi THR dan belanjaan.

Malam dan siang mu tak banyak dipakai berbuat kebajikan, kalah dengan bisnis yang sedang panen saat Ramadhan.

Tak pula banyak kau bersedekah, karena khawatir tak cukup buat mudik dan liburan.

Sahabat, aku seperti tamu yang tak diharapkan. Hingga, sepertinya tak kan menyesal kau kutinggalkan.

Padahal aku datang dengan kemuliaan, seharusnya tak pulang dengan kesiaan.
Percayalah,
Aku pulang belum tentu kan kembali datang, sehingga seharusnya kau menyesal telah menelantarkan.

Masih ada 4  hari kita bersama,
Semoga kau sadar sebelum aku benar-benar pulang...
"Karena umurmu hanyalah cerita singkat yang akan dipertanggungjawabkan dengan panjang".

Bumi Allah, 26 Ramadhan 1436H
Sahabatmu,

Ramadhan

#Rabbana semoga kemuliaan Ramadhan kali ini masih bisa kami dapatkan....
Aamiin.

*forward dari hamba Allah

Tips Lailatul Qadar bagi Wanita Haid

Tips Mendapat Lailatu al-Qadri Bagi wanita Haid

ونظراً لأن الحائض يحرم عليها الصلاة ومسّ المصحف فنوصيها بالآتي:
Dengan memperhatikan, bahwa wanita
haid itu terlarang baginya shalat dan menyentuh mushhaf maka kami mewasiatkan kepadanya sebagai berikut :

1ـ أن تنوي قبل ليلة القدر وأثناءها "لو لم تكن حائضا لقامت الليلة كلها" حتى يكتب لها أجر القيام، فالأعمال بالنيات، ونية المؤمن تسبق عمله، وقد نصّ العلماء على أنّ المؤمن إن تعذر عليه القيام بعمل لعذر بعد أن ينويه يسجل في صحيفة حسناته.
1. Hendaklah ia berniat sebelum lailatul qadri atau pada saat lailatul qadri bahwa "Sekiranya ia tidak sedang haid niscaya ia akan benar-benar menghidupkan malam dengan qiyamullail" Supaya dicatat baginya pahala qiyamullail. Karena amalan itu berdasarkan niatnya, sedangkan niat seorang mukmin itu mendahului amalannya. Sungguh para ulama menjelaskan bahwa seorang mukmin jika berudzur dari melakukan suatu amalan yang telah diniatkan untuk dikerjakan, niscaya tetap tercatat amalan itu di catatan kebaikannya.

وَعَنْ جَابِرٍ قَالَ:كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي غَزَاةٍ فَقَالَ: ( إِنَّ بِالْمَدِينَةِ لَرِجَالًا مَا سِرْتُمْ مَسِيرًا وَلَا قَطَعْتُمْ وَادِيًا إِلَّا كَانُوا مَعَكُمْ حَبَسَهُمْ الْمَرَضُ ). [ رواه مسلم ].
Jabir berkata : Kami pernah bersama Nabi saw di suatu perang, kemudian beliau saw bersabda :(Sungguh di Madinah sekarang ini terdapat beberapa orang laki-laki yang tidak ikut serta dalam peperangan, namun tidaklah kalian menempuh suatu perjalanan atau melewati suatu lembah, melainkan mereka turut serta bersama kalian, hal itu karena mereka terhalang sakit.), (HR. Muslim: 3534)

 قال الإمام  النووي :" هَذَا الْحَدِيث: فَضِيلَة النِّيَّة فِي الْخَيْر، وَأَنَّ مَنْ نَوَى الْغَزْو وَغَيْره مِنْ الطَّاعَات فَعَرَضَ لَهُ عُذْر مَنَعَهُ حَصَلَ لَهُ ثَوَاب نِيَّته، وَأَنَّهُ كُلَّمَا أَكْثَرَ مِنْ التَّأَسُّف عَلَى فَوَات ذَلِكَ، وَتَمَنَّى كَوْنه مَعَ الْغُزَاة وَنَحْوهمْ كَثُرَ ثَوَابه".
Imam An-Nawawi berkata : "Hadits ini menunjukkan keutamaan niat dalam kebaikan, yaitu siapa saja yang niatnya jihad perang atau untuk melakukan ketaatan, kemudian diperhadapkan padanya suatu kondisi udzur yang menghalanginya melakukan ketaatan itu, maka ia telah mendapatkan pahala niatnya. Sungguh kondisinya itu setiap kali kebaikan yang banyak luput darinya, sedangkan ia mengangankan berada di peperangan atau dalam ketaatan itu maka semakin bertambah pula pahalanya.

والمعنى العام من هذه الأحاديث أن المرء يؤجر على نيته إذا حبسه العذر، والحائض حبسها الحيض عن القيام وقراءة القرآن فيكتب لها الأجر إن نوت.
 sehingga makna umum dari hadits ini adalah bahwa seseorang akan dibalas berdasarkan niatnya jika ia terhalangi karena udzurnya, dan wanita haid yang terhalangi dari qiyamullail, dari membaca al-qur'an maka dicatat baginya pahala jika sebelumnya ia berniat.

2ـ الإكثار من الذكر: يجوز للحائض الذكر مطلقا كالتسبيح والتهليل والتكبير والتحميد ونحو ذلك من الباقيات الصالحات وقراءة القرآن دون مسّ للمصحف عند المالكية .
 2. Memperbanyak dzikir : Boleh bagi wanita haid membaca dzikir mutlak seperti tasbih, tahlil, takbir, tahmid dan lain sebagainya dari amal-amal shalih, dan membaca al-Qur'an tanpa menyentuh mushhaf menurut mazhab Maliki.

3ـ الإكثار من الدعاء وخاصة الدعاء الذي ترويه  السيدة عائشة رضي الله عنها، فعنها أنها قالت: قلت: يا رسول الله، أرأيت إن علمت أي ليلةٍ ليلة القدر، ما أقول فيها؟ قال: قولي: "اللهم إنك عفو تحب العفو فاعف عني" رواه الخمسة غير أبي داود، وصححه الترمذي والحاكم.
3. Memperbanyak doa, terutama doa yang diriwayatkan oleh Sayyidah Aisyah r.ah, diriwayatkan darinya bahwasanya ia berkata : Aku bertanya : Wahai Rasul Allah, menurutmu jika aku mengetahui malam apa lailatul qadri itu, apa yang sebaiknya aku ucapkan pada malam tersebut ? Beliau bersabda : Katakanlah : "Allahumma Innaka 'afuwwun tuhibbu al-'afwa fa'fu 'annii". Diriwayatkan oleh Imam yang lima selain Abu Dud rah.a.dan hadits ini disahihkan oleh Tarmidzi dan al-Hakim.

4ـ الإكثار من الاستغفار.
4. Memperbanyak istighfar.

5ـ الإكثار من الصدقات.
5. Memperbanyak sedekah.
6ـ الدعوة إلى الله تعالى وذلك من خلال حثّ الزوج والأولاد على قيام هذه الليلة الفضيلة، فالدالّ على الخير له كأجر فاعله .

6. Berdakwah kepada Allah misalnya dengan menyuruh suami dan anak-anak menghidupkan malam yang mulia itu dengan ketaatan, maka yang menunjukkan kepada kebaikan baginya pahala seperti orang yang mengerjakannya.

7ـ الاستماع للمحاضرات الإيمانية.
7. Mendengarkan muhadarah Imaniyah.

8ـ الإكثار من القربات الأخرى مثل صلة الأرحام ونحوها.
8. Memperbanyak melakukan amalan lainnya yang intinya mendekatkan diri kepada Allah seperti silaturahmi dan yang semisalnya.

Sumber : al-Majlis al-Islami lil iftaai (http://www.fatawah.com/Fatawah/445.aspx)
Penerjemah : Samsul Basri, SSi, MEI.

Lailatul Qadar 2

Ringkasan ceramah doktorah nawaal'aid salah seorang dosen wanita di universitas nauroh di riyadh tentang "Malam lailatul Qodar "

1. Dinamakan dengan malam lailatul qodar karena di dalamnya turun taqdir-taqdir dari langit ke bumi, dinamakan dengan hal itu karena penyadarannya ke taqdir.

2. Peribadahan didalamnya sebanding dgn Peribadahan selama 84tahun. Contoh: jika kamu mengucap Astagfirullah maka seolah-olah kamu beristighfar sejak kamu dilahirkan sampai umur 84th.

3. Dalam malam itu bumi menjadi karena banyaknya malaikat yang turun, sebab malaikat yang turun pada waktu itu jumlahnya lebih banyak dari bebijian bumi untuk meng-aminkan doa kita.

4. Disana ada beberapa macam taqdir-taqdir yang ditetapkan الله terhadap manusia. Taitu Taqdir-taqdir azaliyah, taqdir-taqdir sanawiyah /tahunan, dan taqdir-taqdir harian.

5. Kamu bisa merubah taqdir harian dan tahunan dengan sebab doa. Misal jika الله sudah tetapkan untukmu taqdir kejelekan pada tahun depan misalnya kematian anak atau keretakan rumahtangga, akan dirubah hal itu karena sebab doamu yang ikhlas pada malam lailatul qodar dengan taufiq dan kebahagiaan dan penjagaan dan lain sebagainya...

6. Karena sesungguhnya الله azza wajalla akan memerintahkan kpd para malaikat utk menghapus catatan kesengsaraan utkmu (diganti) dengan kebahagiaan.. Dalilnya adalah firman Allah "Akan الله hapus apa-apa yang Dia kehendaki, dan akan Dia tetapkan dan di sisiNya ada ummulkitab. "

7. Pada malam lailatul qodar tsb, para malaikat berjalan di samping seorang hamba utk menghiburnya karena sdh ditulis untuknya kematian, atau ada para malaikat mendoakan keberkahan kpd seseorang karena diterima amalnya dan dibebaskan dari neraka....

8. Satu jam pada malam lailatulqodar setara dengan 8 tahun, dan 1 menitnya setara dengan 50 hari. Maka siapa dimanakah orang2 yg bersiap bersegera untuk mendapatkannya...?

  Wahai para saudariku, Robb kita Maha Mulia, Maha Penyayang Dia sudah membukakan utk kita pintu-pintu rahmah, dan pintu-pintu langit dan pintu-pintu surga dan Dia senantiasa memanggil kita kepadaNya agar kita berdoa Kpdnya dan agar kita kembali kpdNya..

   JANGAN KALIAN LEWATKAN KESEMPATAN INI...

9. Malam lailatulqodar malam yang sangat mulia janganlah kalian dikalahkan oleh diri-diri kalian sendiri karena pasar-pasar atau hiburan-hiburan yang melalaikan karena Rosululloh shollaallah alaihi wa salam jika sdh masuk 10hr trkhir di bulan romadhon beliau kencangkan ikat pinggangnya dan beliau sholat malam seluruhnya.

Kita tidak tahu, bisa jadi ini adalah akhir bulan ramadhan yang akan kita saksikan...

10. Perbanyaklah kalian dzikir, dan (juga) shodaqoh, dan (juga) sholat malam dan perbanyaklah doa Allahuma innaka 'afuwwun tuhibbul'afwa fa'fu 'annaa (ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf Engkau sukai kemaafan maka maafkanlah kami)

11. Tapi, bagaimana bisa para wanita banyak bersedekah, padahal kebanyakan mereka adalah pengurus rumah tangga, dan kebanyakan mereka tiada memiliki pembantu dalam pekerjaannya...???

Jika kita mendengar keutamaan shodaqoh, kita hanya bisa bersedih dan hanya bisa berangan-angan saja. Kita sering mengatakan "Aku orang yang rugi. Padahal kita ini orang-orang yang diperintahkan utk banyak bersedekah. Rosululloh shollaallah alaihi wa salam bersabda "Wahai para wanita, bersedekahlah kalian dan banyaklah istighfar karena aku melihat kalian adalah kebanyakan penghuni neraka."

Sesungguhnya keutamaan dan kemuliaan الله itu luas dan tidak ada batasnya...
Dia tidak menjadikan sedekah-sedekah dibatasi dengan harta saja....!!!! Bahkan Dia telah menjadikan seluruh pintu-pintu kebaikan sebagai shodaqoh..

Sedekah itu bermacam-macam, contohnya:
1. Setiap ucapan laa ilaha illaLlah itu sedekah, dan ucapan Allahu akbar itu shodaqoh

2. Setiap ucapan Subhanallah itu shodaqoh, dan ucapan Alhamdulillah itu jg shodaqoh

3. kamu mengajak kpd kebaikan, shodaqoh, mencegahkpd kejelekan shodaqoh

4. Bukalah hpmu setiap hari sedekahlah dgn mengirim kata-kata yang baik kpd orang-orang yang kamu kenal. Karena kata yg baik itu adalah shodaqoh..

5. Senyummu utk suamimu dan anak-anakmu dan teman-teman perempuanmu itu adalah shodaqoh...

6. Dua rakaat sholat dhuha setara 360 sedekah..

7. Bersedekahlah dgn kehormatanmu yang dicela oleh seseorang Atau kpd org yang telah menggunjingmu. Karena sesungguhnya الله menerima sedekahnya seseorang thd kehormatannya.

8. Singkirkan gangguan dijalan

9.  Sampaikan salam kpd org yg kamu jumpai

10.  Berilah makan pembantumu sama dengan yang kamu makan, karena itu adalah shodaqoh

11. Berilah makan burung, At binatang melata atau kpd manusia karena itu adalah shodaqoh

12.  Muliakanlah para tamumu lebih dr 3 hari  itu adalah shodaqoh

13. Berdermalah dgn bantuan dan pertolongan badan atau secara ma'nawiyah maka hal itu bagimu adalah shodaqoh..

14.  Mengharaplah pahala dr الله saja terhadap barang yg dicuri darimu maka itu shodaqoh bagimu

15. Carilah ilmu, dan ajarkan dia dan sebarkan maka itu shodaqoh... Dgn berbagai cara diperdengarkan, atau dibacakan atau ditulis sesuai dgn kesanggupanmu..

16. Seteguk air yg kamu minumkan dia kpd org yg kehausan itu shodaqoh..

Milik الله lah segala pujian dan sanjungan

🔷  Kaidah yang sangat penting;
*Ikhlas utk الله saja dan hanya mengharap balasan dariNya semata.. *Kerabat dekat itu paling berhak utk diberikan kebaikan (terlebih dulu)  yaitu kedua orang tua, pasanganmu, dan anak-anakmu..kemudian baru karib kerabat..
*Ingatlah sesungguhnya shodaqoh itu memadamkan dosa seperti air memadamkan api

  Sebarkanlah ini agar kamu bisa bersedekah utk dirimu dgn idzin الله dgn ilmu ini