Tips Mendapat Lailatu al-Qadri Bagi wanita Haid
ونظراً لأن الحائض يحرم عليها الصلاة ومسّ المصحف فنوصيها بالآتي:
Dengan memperhatikan, bahwa wanita
haid itu terlarang baginya shalat dan menyentuh mushhaf maka kami mewasiatkan kepadanya sebagai berikut :
1ـ أن تنوي قبل ليلة القدر وأثناءها "لو لم تكن حائضا لقامت الليلة كلها" حتى يكتب لها أجر القيام، فالأعمال بالنيات، ونية المؤمن تسبق عمله، وقد نصّ العلماء على أنّ المؤمن إن تعذر عليه القيام بعمل لعذر بعد أن ينويه يسجل في صحيفة حسناته.
1. Hendaklah ia berniat sebelum lailatul qadri atau pada saat lailatul qadri bahwa "Sekiranya ia tidak sedang haid niscaya ia akan benar-benar menghidupkan malam dengan qiyamullail" Supaya dicatat baginya pahala qiyamullail. Karena amalan itu berdasarkan niatnya, sedangkan niat seorang mukmin itu mendahului amalannya. Sungguh para ulama menjelaskan bahwa seorang mukmin jika berudzur dari melakukan suatu amalan yang telah diniatkan untuk dikerjakan, niscaya tetap tercatat amalan itu di catatan kebaikannya.
وَعَنْ جَابِرٍ قَالَ:كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي غَزَاةٍ فَقَالَ: ( إِنَّ بِالْمَدِينَةِ لَرِجَالًا مَا سِرْتُمْ مَسِيرًا وَلَا قَطَعْتُمْ وَادِيًا إِلَّا كَانُوا مَعَكُمْ حَبَسَهُمْ الْمَرَضُ ). [ رواه مسلم ].
Jabir berkata : Kami pernah bersama Nabi saw di suatu perang, kemudian beliau saw bersabda :(Sungguh di Madinah sekarang ini terdapat beberapa orang laki-laki yang tidak ikut serta dalam peperangan, namun tidaklah kalian menempuh suatu perjalanan atau melewati suatu lembah, melainkan mereka turut serta bersama kalian, hal itu karena mereka terhalang sakit.), (HR. Muslim: 3534)
قال الإمام النووي :" هَذَا الْحَدِيث: فَضِيلَة النِّيَّة فِي الْخَيْر، وَأَنَّ مَنْ نَوَى الْغَزْو وَغَيْره مِنْ الطَّاعَات فَعَرَضَ لَهُ عُذْر مَنَعَهُ حَصَلَ لَهُ ثَوَاب نِيَّته، وَأَنَّهُ كُلَّمَا أَكْثَرَ مِنْ التَّأَسُّف عَلَى فَوَات ذَلِكَ، وَتَمَنَّى كَوْنه مَعَ الْغُزَاة وَنَحْوهمْ كَثُرَ ثَوَابه".
Imam An-Nawawi berkata : "Hadits ini menunjukkan keutamaan niat dalam kebaikan, yaitu siapa saja yang niatnya jihad perang atau untuk melakukan ketaatan, kemudian diperhadapkan padanya suatu kondisi udzur yang menghalanginya melakukan ketaatan itu, maka ia telah mendapatkan pahala niatnya. Sungguh kondisinya itu setiap kali kebaikan yang banyak luput darinya, sedangkan ia mengangankan berada di peperangan atau dalam ketaatan itu maka semakin bertambah pula pahalanya.
والمعنى العام من هذه الأحاديث أن المرء يؤجر على نيته إذا حبسه العذر، والحائض حبسها الحيض عن القيام وقراءة القرآن فيكتب لها الأجر إن نوت.
sehingga makna umum dari hadits ini adalah bahwa seseorang akan dibalas berdasarkan niatnya jika ia terhalangi karena udzurnya, dan wanita haid yang terhalangi dari qiyamullail, dari membaca al-qur'an maka dicatat baginya pahala jika sebelumnya ia berniat.
2ـ الإكثار من الذكر: يجوز للحائض الذكر مطلقا كالتسبيح والتهليل والتكبير والتحميد ونحو ذلك من الباقيات الصالحات وقراءة القرآن دون مسّ للمصحف عند المالكية .
2. Memperbanyak dzikir : Boleh bagi wanita haid membaca dzikir mutlak seperti tasbih, tahlil, takbir, tahmid dan lain sebagainya dari amal-amal shalih, dan membaca al-Qur'an tanpa menyentuh mushhaf menurut mazhab Maliki.
3ـ الإكثار من الدعاء وخاصة الدعاء الذي ترويه السيدة عائشة رضي الله عنها، فعنها أنها قالت: قلت: يا رسول الله، أرأيت إن علمت أي ليلةٍ ليلة القدر، ما أقول فيها؟ قال: قولي: "اللهم إنك عفو تحب العفو فاعف عني" رواه الخمسة غير أبي داود، وصححه الترمذي والحاكم.
3. Memperbanyak doa, terutama doa yang diriwayatkan oleh Sayyidah Aisyah r.ah, diriwayatkan darinya bahwasanya ia berkata : Aku bertanya : Wahai Rasul Allah, menurutmu jika aku mengetahui malam apa lailatul qadri itu, apa yang sebaiknya aku ucapkan pada malam tersebut ? Beliau bersabda : Katakanlah : "Allahumma Innaka 'afuwwun tuhibbu al-'afwa fa'fu 'annii". Diriwayatkan oleh Imam yang lima selain Abu Dud rah.a.dan hadits ini disahihkan oleh Tarmidzi dan al-Hakim.
4ـ الإكثار من الاستغفار.
4. Memperbanyak istighfar.
5ـ الإكثار من الصدقات.
5. Memperbanyak sedekah.
6ـ الدعوة إلى الله تعالى وذلك من خلال حثّ الزوج والأولاد على قيام هذه الليلة الفضيلة، فالدالّ على الخير له كأجر فاعله .
6. Berdakwah kepada Allah misalnya dengan menyuruh suami dan anak-anak menghidupkan malam yang mulia itu dengan ketaatan, maka yang menunjukkan kepada kebaikan baginya pahala seperti orang yang mengerjakannya.
7ـ الاستماع للمحاضرات الإيمانية.
7. Mendengarkan muhadarah Imaniyah.
8ـ الإكثار من القربات الأخرى مثل صلة الأرحام ونحوها.
8. Memperbanyak melakukan amalan lainnya yang intinya mendekatkan diri kepada Allah seperti silaturahmi dan yang semisalnya.
Sumber : al-Majlis al-Islami lil iftaai (http://www.fatawah.com/Fatawah/445.aspx)
Penerjemah : Samsul Basri, SSi, MEI.
No comments:
Post a Comment